Monday, 21 December 2015

METODOLOGI PENELITIAN MPI (MAKALAH)

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Pada awal tahun 1970-an berbicara mengenai penelitian agama dianggap tabu. Orang akan berkata : kenapa agama yang sudah begitu mapan mau diteliti ; agama adalah wahyu Allah. Sikap serupa terjadi di Barat. Dalam pendahuluan buku Seven Theories Of Religion dikatakan, dahulu orang Eropa menolak anggapan adanya kemungkinan meniliti agama. Sebab, antara ilmu dan nilai, antara ilmu dan agama ( kepercayaan ), tidak bisa disinkronkan.  
Era modern ini, semua aktivitas selalu mempunyai runjukan dan pedoman. Karena hal itu menunjang kesuksesan dan kekonkritan segala aspek. Oleh karena itu sebuah penelititanpun juga harus mempunyai rujukan yang jelas dan dapat dijadikan pegangan. Begitupun dengan sebuah disiplin ilmu majemen pendidikan islam, dianggap perlu dan penting untuk mengetahaui metodologi penelitian, objek penelitian dan lain-lain. Karena sejatinya berbicara mengenai majemen berarti berbicara perencanaan, mengorganisir, memimpin dan mengendalikan manusia dan sumber daya lain untuk mencapai tujuan organisasi yang secara efektif dan secara efisien. Berangkat dari itu, penulis berusaha sedikitnya memaparkan mengenai “Metodologi penelitian majajemen pendidikan islam”.
B.     Rumusan masalah
Dari latar belakang diatas, dapat kita rumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Apa yang dimaksud dengan metodologi penelitian ?
2.      Apa objek penelitian manajemen pendidikan islam ?
3.      Komponen-komponen metodologi penelitian ?
4.      Bagaimana proses penelitian manajemen pendidikan islam ?


BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian metodologi penelitian
Menurut bahasa (etimologi), metode berasal dari bahasa Yunani, yaitu meta (sepanjang), hodos (jalan). Jadi, metode adalah suatu ilmu tentang cara atau langkah-langkah yang di tempuh dalam suatu disiplin tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Metode berarti ilmu cara menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Metode juga disebut pengajaran atau penelitian.
Menurut istilah“metodologi” berasal dari bahasa yunani yakni metodhos dan logos, methodos berarti cara, kiat dan seluk beluk yang berkaitan dengan upaya menyelsaikan sesuatu, sementara logos berarti ilmu pengetahuan, cakrawala dan wawasan. Dengan demikian metodologi adalah metode atau cara-cara yang berlaku dalam kajian atau penelitian.
Metodologi adalah masalah yang sangat penting dalam sejarah pertumbuhan ilmu, metode kognitif yang betul untuk mencari kebenaran adalah lebih penting dari filsafat, sains, atau hanya mempunyai bakat.
Cara dan prosedur untuk memperoleh pengetahuan dapat ditentukan berdasarkan disiplin ilmu yang dikajinya, oleh karena itu dalam menentukan disiplin ilmu kita harus menentukan metode yang relevan dengan disiplin  itu, masalah yang dihadapi dalam proses verivikasi ini adalah bagaimana prosedur kajian dan cara dalam pengumpulsn dan analisis data agar kesimpulan yang ditarik memenuhi persyaratan berfikir induktif. Penetapan prosedur kajian dan cara ini disebut metodologi kajian atau metodologi penelitian
Metodologi penelitian adalah sekumpulan peraturan, kegiatan, dan prosedur yang digunakan oleh pelaku suatu disiplin ilmu. Metodologi juga merupakan analisis teoritis mengenai suatu cara atau metode. Penelitian merupak an suatu penyelidikan yang sistematis untuk meningkatkan sejumlah pengetahuan, juga merupakan suatu usaha yang sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki masalah tertentu yang memerlukan jawaban. 
Hakekat penelitian dapat dipahami dengan mempelajari berbagai aspek yang mendorong penelitian untuk melakukan penelitian. Setiap orang mempunyai motivasi yang berbeda, di antaranya dipengaruhi oleh tujuan dan profesi masing-masing. Motivasi dan tujuan penelitian secara umum pada dasarnya adalah sama, yaitu bahwa penelitian merupakan refleksi dari keinginan manusia yang selalu berusaha untuk mengetahui sesuatu. Keinginan untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan merupakan kebutuhan dasar manusia  yang umumnya menjadi motivasi untuk melakukan penelitian.
Adapun tujuan Penelitian adalah penemuan, pembuktian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
  1. Penemuan. Data yang diperoleh dari penelitian merupakan data-data yang baru yang belum pernah diketahui.
  2. Pembuktian. Data yang diperoleh dari penelitian digunakan untuk membuktikan adanya keraguan terhadap informasi atau pengetahuan tertentu.
  3. Pengembangan. Data yang diperoleh dari penelitian digunakan untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan yang telah ada.
Kegunaan penelitian dapat dipergunakan untuk memahami masalah, memecahkan masalah, dan mengantisipasi masalah.
  1. Memahami masalah. Data yang diperoleh dari penelitian digunakan untuk memperjelas suatu masalah atau informasi yang tidak diketahui dan selanjutnya diketahui.
  2. Memecahkan masalah. Data yang diperoleh dari penelitian digunakan untuk meminimalkan atau menghilangkan masalah.
  3. Mengantisipasi masalah. Data yang diperoleh dari penelitian digunakan untuk mengupayakan agar masalah tersebut tidak terjadi.


Diagram alir proses penelitian

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPSDHYOV7n4rLlyBtb3tGobjwjmRKkdVBjTSyLl_FgJaXk28JbCKsx98yqyQPodU6aWLdapacfeitxgke1AghBAEMSkGmB-3gvXpgcrw-xFGwSUWK7z1-8tmEm1DCQBZHl-fJEngsMR7TT/s320/PROSEDUR.jpg

B.   Komponen-komponen metodologi penelitian
1.      Cara ilmiah
Kegiatan penelitian didasarkan cirri-ciri keilmuan :
a.       Rasional, dilakukan dengan cara yang masuk akal sehingga terjangkau penalaran manusia.
b.      Empiris, dapat diamati indera manusia sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara yang digunakan.
c.       Sistematis, proses yang digunakan menggunakan langkah yang logis.
2.      Data
Dalam data penelitian kita harus memperhatikan :
a.       Validitas data yang menunjukan derajat ketepatan antara data yang sesungguhnya terjadi pada obyek dengan data yang dapat dikumpulkan oleh peneliti.
b.      Reliabelitas data yang menunjukan derajat konsistensi data dalam interval waktu tertentu.
c.       Obyektifitas data yang menunjukan derajat persamaan persepsi berkenaan dengan kesepakatan antar banyak orang (interpersonal agreement).
Berdasar Pendekatan Filosofis dan disiplin Ilmu (terkait dengan data) data penelitian terbagi kedalam dua penelitian, Penelitian kualitatif yang dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, tindakan, dll, secara holistik dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan naratif pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Sedangkan penelitian Kuantitatif Penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan, meramalkan, mengontrol fenomena melalui pengumpulan data terfokus dari data numerik.
3.      Tujuan
a.       Penemuan, yang sebelumnya belum pernah diketahui.
b.      Pembuktian, yang membuktikan keraguan terhadap informasi/ pengetahuan tertentu.
c.       Pengembangan, yang memperdalam dan memperluas pengetahuan yang sudah ada.

4.      Kegunaan
a.       MEMAHAMI MASALAH
            Peneliti memperjelas suatu masalah/informasi yang tidak diketahui dan selanjutnya menjadi tahu
b.      MEMECAHKAN MASALAH
            Peneliti meminimalkan/menghilangkan masalah
c.       MENGANTISIPASI MASALAH
            Peneliti mengupayakan agar masalah tidak terjadi
           





C.      Objek penelitian manajemen pendidikan islam
Objek Penelitian Manajemen Pendidikan Islam
Secara teoretik manajemen pendidikan Islam juga mengikuti kaidah-kaidah manajemen pada umumnya dengan objek kajiannya adalah lembaga-lembaga pendidikan Islam.
Namun demikian, secara ontologik masih terdapat beberapa varian persepsi mengenai bidang studi yang relatif baru ini. Ditilik dari namanya, bidang kajian ini merupakan bidang kajian lintas disiplin (inter-desciplinary course), jika pemisahan istilahnya adalah: manajemen + pendidikan Islam. Namun jika pemisahannya  adalah: manajemen + pendidikan  + Islam, maka bidang kajian ini merupakan bidang multi disiplin (multi-desciplinary course). Bisa juga pemisahannya adalah: manajemen pendidikan + Islam. Tampaknya yang lebih menjadi concern program studi adalah pemisahan model pertama (manajemen + pendidikan Islam). 
Implikasi dari model kajian semacam itu adalah pengkaji dituntut untuk menguasai lebih dari satu macam disiplin ilmu. Di satu sisi, pengkaji dituntut untuk menguasai ilmu manajemen secara umum, dan di sisi yang lain dia juga dituntut untuk menguasai konsep-konsep pendidikan Islam dengan menggunakan al Qur’an dan hadis sebagai cara pandang. Ini tentu bukan pekerjaan mudah.

  https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKEdj5V1vHsuDIfN_wCUVmy9qjxfkSDsoFkFUuQebLu9wOYKxYsyvq37pGf4eREY_KoWmWBIxl6KmWVf23BFa5EMZfkgWzpkBbybDXz51QVMlDFPrshlIx0HPRvO-gRzeME5qdwP0ftx42/s400/Penelitian+MPI.png

Sebagai program studi dengan bidang kajian khusus, secara ontologik manajemen pendidikan Islam menetapkan kawasannya berdasarkan fakta empirik dan konsep teoretik manajemen pendidikan Islam. Manajemen adalah sebuah konstruk teoretik. Pendidikan adalah konsep substantif, tetapi masih di tingkat generik, sedangkan Islam adalah konsep substantif di tingkat partikularistik.
Dengan demikian, secara definitif manajemen pendidikan Islam adalah proses mengelola lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti madrasah, pondok pesantren, dan lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam dengan menggunakan Islam (al Qur’an dan hadis) sebagai cara pandang/perspektif. Diyakini lembaga-lembaga pendidikan tersebut memiliki ciri khusus yang membedakaanya dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya sehingga diperlukan model pengelolaan secara khusus pula.
Secara lebih rinci, objek kajian manajemen pendidikan Islam meliputi:
1.      perangkat kegiatan apa saja yang membentuk konstruk manajemen, mulai dari planning, organizing, actuating hingga controlling,
2.      komponen-komponen sistemik yang niscaya ada dalam fenomena pendidikan, mulai dari input, output, outcome, proses belajar, sarana dan prasarana belajar, lingkungan, guru, kurikulum, personalia pendukung, bahan ajar, masyarakat, evaluasi dan
3.      fakta empirik yang diberi label (pendidikan) Islam, dengan kekhususannya, seperti nilai-nilai yang berkembang di lingkungan lembaga pendidikan Islam (ikhlas, barokah, tawadu’, istiqomah, ijtihad, dan sebagainya).
Memahami pendidikan sebagai upaya teleologik di mana manajemen merupakan bagian komponen yang tak terpisahkan dari praktik pendidikan, ilustrasi berikut dapat dipakai mencari ruang/wilayah kajian penelitian.
D.      Proses penelitian manajemen pendidikan islam
Sebagai aktivitas ilmiah, penelitian memiliki langkah-langkah yang sistemik  dan sistematik yang berlaku untuk semua disiplin ilmu. Sistemik artinya ada saling keterkaitan antar-unsur dan sistematik artinya ada urutan logik antar-langkah. Setidaknya terdapat 8 (delapan) tahap penelitian sebagai berikut:  (1) selecting a topic), (2) determining a research paradigm, (3) formulating a research question, (4) determining a research design, (5) collecting data, (6) analyzing data, (7) interpreting data, (8) informing others. 
1Selecting  a topic
Memilih topik penelitian merupakan langkah paling awal yang harus dilakukan seorang peneliti. Topik penelitian merupakan ide atau gambaran sangat umum yang akan menjadi tema kajian, bisa tentang masalah pendidikan, budaya, politik, sejarah, ekonomi, agama dan sebagainya.
Tidak ada formula yang baku tentang metode bagaimana mencari topik penelitian. Tetapi ada beberapa cara yang bisa dipakai sebagai pedoman. Menurut  sebagai berikut:
1.                  personal experience, yaitu pengalaman pribadi yang pernah dialami seseorang. Ini bisa menjadi inspirasi seseorang untuk melakukan penelitian.
2.                  curiosity, yaitu rasa ingin tahu yang kuat. Misalnya, sesaeorang ingin mengetahui pola hubungan antara majikan dan staf di dalam sebuah perusahaan atau kantor sehingga melahirkan kinerja yang sinergis.
3.                  the state of knowledge in a field, yaitu tema atau isu–isu baru di masyarakat yang mengundang perhatian publik. Misalnya, beberapa waktu lalu terjadi bentrok antar-pemeluk agama karena munculnya aliran baru dalam agama, seperti Ahmadiyah.
4.                  solving a problem, yaitu keinginan menyelesaikan masalah yang terjadi di masyarakat dengan segera. Misalnya, di masyarakat ada gejala orang mudah marah atau bersifat emosional terhadap kebijakan publik.
5.                  social premiums (some topics are “hot” and invite challenges or opportunities. Ada tema atau topik tertentu yang menantang untuk diteliti dengan imbalan finansial yang cukup memadai.
6.                  f. personal values, yakni nilai atau manfaat khusus secara pribadi atas hasil penelitian.
7.                  everyday life, yakni peristiwa sehari-hari bisa menjadi lahan atau tema penelitain, baik yang berskala mikro maupun makro.
Namun demikian dari sekian banyak tahapan tersebut, tema penelitian untuk skripsi, tesis dan desertasi setidaknya memenuhi 3 (tiga) syarat Relevansi, yakni:
a. (R)elevansi Akademik, bahwa penelitian harus memberikan sumbangan keilmuan sesuai bidang studi yang kita tekuni).
b. (R)elevansi Sosial, bahwa penelitian harus menarik dan relevan dengan isu-isu yang terjadi d masyarakat.
c. (R)elevansi Institusional, bahwa penelitian mengangkat tema yang akrab dengan lembaga di mana kita bekerja atau belajar. 
2Determining a Research Paradigm
Selaras dengan tinjauan aksiologik, dalam khasanah metodologi penelitian atau kajian dikenal, paling tidak, tiga paradigma kajian utama, yaitu: (1) paradigma positivistik (positivistic paradigm), (2) paradigma interpretif (interpretive paradigm), dan (3) paradigma refleksif (reflexive paradigm). Lazimnya, paradigma positivistik disepadankan dengan pendekatan kuantitatif (quantitative approach), paradigma interpretif disepadankan dengan pendekatan kualitatif (qualitative approach), sedangkan paradigma refleksif disepadankan dengan pendekatan kritik (critical approach).
3. Formulating  research question
Beberapa langkah untuk merumuskan pertanyaan penelitian:
1.                  examining literature, yakni penelusuran literatur, selain dipakai untuk menyempitkan masalah sehingga researchable, juga untuk membantu menyadari bahwa penelitian ini akan memberi sumbangan pada topik yang lebih besar dan bahwa penelitian tersebut merupakan bagian dari penelitian sebelumnya, bukan fakta asing yang terpisah.
2.                  talking over ideas with colleagues or experts, yakni mendiskusikan rencana atau topik penelitian dengan kolega, teman sejawat atau ahli untuk memperoleh masukan.
3.                  applying to a specific context, mencoba memahaminya dengan lebih dalam pada konteks secara spesifik.
4.                  defining the aims or desired outcome  of  the study, yakni menentukan tujuan yang hendak dicapai, apakah untuk menjelaskan realitas atau memahami fenomena.
4. Determining a research design.
Pada tahap ini peneliti membuat rancangan tentang prosedur dan metode yang akan dipakai untuk memperoleh data, bagaimana memperolehnya, siapa yang akan dihubungi, kapan pelaksanaannya dan di mana,  apa bentuk datanya, dan bagaimana cara analisisnya. 
5. Collecting data
Secara umum kegiatan pengumpulan data terdiri atas observasi, wawancara, dan kuesioner. (masing-masing jenis perlu dibahas pada sesi tersendiri). 
6. Analyzing data
Terdapat tiga model atau cara untuk menganalisis data kualitatif. Miles dan Huberman (1987) menganjurkan model analisis interaktif (interactive model) yang mengandung empat komponen yang saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanaan data, (3) pemaparan data, dan (4) penarikan dan pengajuan simpulan.
Spradley (1979) menganjurkan empat teknik analisis data kualitatif, yaitu (1) analisis ranah (domain analysis), (2) analisis taksonomik (taxonomic analysis), (3) analisis komponensial (componential analysis), dan (4) analisis tematik (thematic analysis).
Analisis ranah dimaksudkan untuk memperoleh pengertian umum dan relatif menyeluruh mengenai pokok permasalahan. Hasil analisis ini berupa pengetahuan tingkat “permulaan” tentang berbagai ranah atau kategori konseptual secara umum pula.
Pada analisis taksonomik, pusat perhatian ditentukan terbatas pada ranah yang sangat berguna dalam memaparkan gejala-gejala yang menjadi sasaran penelitian. Analisis taksonomik tidak saja berdasarkan data lapangan, tetapi juga berdasarkan hasil kajian pusataka. Beberapa ranah yang sangat penting dipilih dan dijadikan pusat perhatian untuk diselidiki secara mendalam.
Analisis komponensial dilakukan untuk mengorganisasikan perbedaan (kontras) antar-unsur dalam ranah yang diperoleh melalui pengamatan dan atau wawancara terseleksi.
Pada analisis tematik, peneliti menggunakan saran Bogdan dan Taylor (1975: 82-93) dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
1.                  Membaca secara cermat keseluruhan catatan lapangan
2.                  Memberikan kode pada topik-topik pembicaraan penting
3.                  Menyusun tipologi
4.                  Membaca kepustakaan yang terkait dengan masalah dan konteks penelitian.
Berdasarkan seluruh analisis, peneliti melakukan rekonstruksi dalam bentuk deskripsi, narasi dan argumentasi. Beberapa sub-topik disusun secara deduktif, dengan  mendahulukan kaidah-kaidah pokok yang diikuti dengan kasus dan contoh-contoh. Sub-topik selebihnya disajikan secara induktif, dengan memaparkan kasus dan contoh untuk ditarik kesimpulan umumnya.
Cara atau model  ketiga disarankan oleh Strauss dan Corbin (1990) dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) open coding, (2) axial coding, (3) selective coding, dan (4) the generation of a conditional matrix. 
7. Interpreting data
Pada tahap ini peneliti melakukan  simpulan kajian, yang meliputi kegiatan penafsiran dan penyatupaduan (interpreting and integrating) temuan ke dalam bangunan pengetahuan sebelumnya. 

8. Informing others.
Pada tahap ini peneliti menulis hasil penelitian dalam bentuk laporan penelitian, bisa dalam bentuk skripsi, tesis, desertasi atau laporan penelitian. Temuan penelitian disebarluaskan ke khalayak akademik untuk memperoleh masukan dan memberikan sumbangan bagi kemaslahatan umum. Dari temuan penelitian, kegiatan penelitian lebih lanjut dapat dilakukan.


BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
Sebagai sebuah disiplin ilmu pengetahun, manajemen pendidikan Islam memiliki ciri dan kekhasan sendiri yang berbeda dengan bidang pengetahuan yang lain, baik dari aspek ontologik, epsitemologik maupun aksiologik. Pemahaman ontologik yang mencakup objek dan wilayah kajian, pemahaman epistemologik yang mencakup cara mengkajinya dan pemahaman aksiologik yang mencakup tujuan dan manfaat kajian penting dikuasai oleh setiap peneliti. Kekeliruan penetapan objek dan wilayah kajian akan berakibat sangat fatal,
Sebagai bidang ilmu lintas disiplin, manajemen pendidikan Islam memungkinkan untuk dikaji bersama para pakar di bidang lain, seperti pakar pendidikan, pakar manajemen (umum), dan pakar studi keislaman.
Dengan besarnya jumlah lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang sampai saat ini mencapai angka 85. 911 dengan jumlah siswa 11.531.028, maka  bidang studi ini sangat prospektif. Peminat studi ini pun juga semakin banyak. Seiring dengan upaya pengembangan dan peningkatan kualitas lembaga pendidikan Islam, Indonesia sangat memerlukan ahli di bidang ini untuk membuat blue printpengelolaan lembaga-lembaga pendidikan Islam secara nasional. Siapa tahu ahli dimaksud muncul dari kelas ini! Aminnn….



Daftar Pustaka

Alvesson, Mats dan Kaj Skoldberg. 2000. Reflexive Methodology: New Vistas for Qualitative Research.
Faisal, Sanapiah. 1998. “Filosofi dan Akar Tradisi Penelitian Kualitatif”, Makalah, Disampaikan pada Pelatihan Metode Penelitian Kualitatif oleh Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (BMPTSI) Wilayah VII-Jawa Timur di Surabaya, 24-27 Agustus 1998.
Sulistyo-Basuki. 2006. Metode Penelitian. Jakarta: Wedatama Wida Sastra Bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Wuisman J.J.J. M. 1996. Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Jilid 1, Asas-Asas. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. www.google.edu.com







No comments:

Post a Comment