ABSTRAK
Manajemen
ialah proses mengintegrasikan sumber-sumber yang tidak berhubungan menjadi
sistem total untuk menyelesaikan suatu tujuan. Adapun maksud sumber di sini
ialah mencakup orang-orang, alat-alat, media, bahan-bahan, uang dan sarana. Manajemen
kurikulum merupakan bagian integral dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Lingkup manajemen kurikulum
meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum.
Kurikulum
mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum
mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan
pendidikan dan kurikulum juga merupakan suatu rencana pendidikan, memberikan
pedoman dan pegangan tentang jenis, lingkup, dan urutan isi serta proses
pendidikan.
KATA PENGANTAR
Segala
puji bagi Allah yang telah memberikan banyak kenikmatan, salah satunya adalah
kenikmatan ilmu sehingga laporan
yang berjudul Manajemen Kurikulum
dapat terselesaikan. Selanjutnya semoga shalawat serta salam tetap tercurah
limpahkan kepada Nabi Muhammad saw yang telah membimbing kita semua dari zaman
jahiliyah ke jalan yang terang benderang seperti sekarang ini.
Penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada Dr. Anton Athoillah, MM, sebagai dosen
pengempu mata kuliah Manajemen
Strategik, Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan gunung djati Bandung,
yang telah mengantarkan ilmu kepada kami dan
penyusun mengucapkan terima kasih juga kepada
teman-teman yang telah memberikan masukan dan partisipasinya dalam pembuatan laporan ini. Semoga apa yang telah
dilakukan oleh bapak dan teman-teman mendapatkan balasan yang berlipat-lipat
dari Allah swt.
Laporan ini masih jauh dari kata sempurna
sebagaimana yang diharapkan. Namun, semoga dapat berguna bagi masyarakat
umumnya dan khususnya bagi kami. Amin
Bandung, November 2015
Penyusun
Adimaja
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu aspek yang berpengaruh terhadap keberhasilan
pendidikan Nasional adalah aspek kurikulum. Kurikulum memiliki peran strategis
dalam pendidikan sebab berkaitan dengan penentuan arah, isi, dan proses
pendidikan yang pada akhirnya menentukan macam dan kualifikasi lulusan suatu
lembaga pendidikan. Kurikulum juga menyangkut rencana dan pelaksanaan
pendidikan baik dalam lingkup kelas, sekolah, daerah, wilayah, maupun nasional.
Di samping itu,
paradigma pendidikan dan pilar-pilar pembelajaran yang telah dicanangkan oleh
pemerintah harus menjadi landasan dalam pengembangan kurikulum (desain,
implementasi, manajemen, supervisi, dan evaluasi kurikulum) di setiap lembaga
pendidikan. Selain itu juga, salah satu aspek yang dapat mempengaruhi
keberhasilan kurikulum adalah pemberdayaan bidang manajemen atau pengelolaan
pendidikan di lembaga pendidikan yang bersangkutan. Pengelolaan kurikulum pada
tingkat satuan pendidikan atau sekolah perlu dikoordinasikan oleh pihak
pimpinan lembaga dan pembantu pimpinan yang dikembangkan secara integral dan
disesuaikan dengan visi dan misi lembaga pendidikan yang bersangkutan. Oleh
karena itu, penyusun mengadakan observasi untuk melihat kesesuaian antara teori
dan praktek di lapangan ke lembaga pendidikan Pribadi Bilingual Boarding School
mengenai kurikulum yang diterapkan di sekolah tersebut.
B. Tujuan Studi Lapangan
Tujuan
diadakannya studi lapangan ini adalah untuk mengetahui kurikulum yang digunakan
oleh sekolah terkait, lalu untuk mengetahui hambatan-hambatan yang dirasa
dengan penggunaan kurikulum tersebut.
C. Manfaat Studi Lapangan
Dengan
diadakannya studi lapangan ini penulis dapat mengetahui kurikulum yang
digunakan oleh sekolah terkait, dan penulis dapat mengetahui hambatan-hambatan
yang ada.
D. Lokasi & Sumber Studi Lapangan
Lokasi
studi lapangan bertempat di Pribadi Bilingual Boarding School yang berada di
Jl. PHH. Mushtofa no. 41 kota Bandung dengan narasumber Bapak Ahmad Fauzi
sebagai wakil kepala sekolah bidang kurikulum.
BAB II
LANDASAN TEORI
A.
Pengertian Manajemen Kurikulum
Manajemen ialah proses
mengintegrasikan sumber-sumber yang tidak berhubungan menjadi sistem total
untuk menyelesaikan suatu tujuan. Adapun maksud sumber di sini ialah mencakup
orang-orang, alat-alat, media, bahan-bahan, uang dan sarana. Semua itu diarahkan
dan dikoordinasikan agar terpusat dalam rangka menyelesaikan tujuan. (Pidarta, 2004, hal. 3)
Sedangkan istilah kurikulum (curriculum)
berasal dari kata curir (pelari) dan curere (tempat berpacu), dan
pada awalnya digunakan dalam dunia olahraga. Pada saat itu kurikulum diartikan
sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai
finish untuk memperoleh medali atau penghargaan. Kemudian pengertian
kurikulum tersebut diterapkan dalam dunia pendidikan menjadi sejumlah mata
pelajaran yang harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal sampai akhir program
pelajaran untuk memperoleh penghargaan dalam bentuk ijazah. (UPI, 2009, hal. 2) . Selain itu,
pengertian kurikulum dapat di artikan sebagai berikut : kurikulum sebagai suatu
program kegiatan yang terencana, kurikulum sebagai hasil belajar yang
diharapkan, kurikulum sebagai reproduksi kultural, kurikulum sebagai kumpulan
tugas dan konsep diskrit, kurikulum sebagai agenda rekonstruksi sosial,
kurikulum sebagai currere. (Hamalik, 2007, hal. 3-8) . Adapun menurut
istilah, Saylor, Alexander, dan Lewis (Rusman, 2009, p. 3) mendefinisikan kurikulum sebagai berikut segala
upaya sekolah untuk memengaruhi siswa agar dapat belajar, baik dalam ruangan
kelas maupun di luar sekolah. Sementara itu, Harold
B. Alberty (Rusman, 2009, p. 3) memandang kurikulum
sebagai semua kegiatan yang diberikan kepada siswa di bawah tanggung jawab
sekolah (all of activities that are
provided for the students by the school). Jadi, bisa di simpulkan dari pengertian di atas bahwa kurikulum
adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan
pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. (Rusman, 2009, p. 3)
Jadi, Manajemen
kurikulum adalah sebagai suatu sistem pengelolaan kurikulum yang kooperatif,
komprehensif, sistemik dan sistematik dalam rangka ketercapaian tujuan
kurikulum. (Rusman, 2009, p. 3)
B.
Ruang Lingkup Manajemen Kurikulum
Manajemen kurikulum merupakan bagian integral dari Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Lingkup
manajemen kurikulum meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan
evaluasi kurikulum. Pada tingkat satuan pendidikan kegiatan kurikulum lebih
mengutamakan untuk merealisasikan dan merelevansikan antara kurikulum nasional
(standar kompetensi/kompetensi dasar) dengan kebutuhan daerah dan kondisi
sekolah yang bersangkutan, sehingga kurikulum tersebut merupakan kurikulum yang
integrasi dengan peserta didik maupun dengan lingkungan di mana sekolah itu
berada.
(Rusman, 2009, p. 4)
C.
Prinsip dan Fungsi Manajemen
Kurikulum
Terdapat
lima prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakan manajemen kurikulum,
yaitu sebagai berikut:
1. Produktivitas, hasil yang akan diperoleh dalam kegiatan kurikulum
merupakan aspek yang harus dipertimbangkan dalam manajemen kurikulum.
Pertimbangan bagaimana agar peserta didik dapat mencapai hasil belajar sesuai
dengan tujuan kurikulum harus menjadi sasaran dalam manajemen kurikulum.
2. Demokratisasi, pelaksanaan manajemen kurikulum harus berasaskan
demokrasi yang menempatkan pengelola, pelaksana, dan subjek didik pada posisi
yang seharusnya dalam melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab untuk
mencapai tujuan kurikulum.
3. Kooperatif, untuk memperoleh hasil yang diharapkan dalam kegiatan
manajemen kurikulum perlu adanya kerja sama yang positif dari berbagai pihak
yang terkait.
4. Efektivitas
dan efisiensi, rangkaian
kegiatan manajemen kurikulum harus mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi
untuk mencapai tujuan kurikulum sehingga kegiatan manajemen kurikulum tersebut
memberikan hasil yang berguna dengan biaya, tenaga, dan waktu yang relatif
singkat.
5. Mengarahkan
visi, misi, dan tujuan yang
ditetapkan dalam kurikulum, proses manajemen harus dapat memperkuat dan
mengarahkan visi, misi, dan tujuan kurikulum.
Selain
prinsip-prinsip tersebut juga perlu dipertimbangkan kebijaksanaan pemerintah
maupun Departemen Pendidikan Nasional, seperti USPN No. 20 tahun 2003,
kurikulum pola Nasional, pedoman penyelenggaraan program, kebijaksanaan
penerapan Manajemen Berbasis Sekolah, kebijaksanaan penerapan Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP), keputusan dan peraturan pemerintah yang berhubungan
dengan lembaga pendidikan atau jenjang/jenis sekolah yang bersangkutan. (Rusman, 2009, hal. 4)
Dalam
proses pendidikan perlu dilaksanakan manajemen kurikulum agar perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum berjalan lebih efektif, efisien, dan
optimal dalam memberdayakan berbagai sumber belajar, pengalaman belajar, maupun
komponen kurikulum. Ada beberapa fungsi dari manajemen
kurikulum di antaranya sebagai berikut :
1. Meningkatkan
efisiensi pemanfaatan sumber daya kurikulum.
2. Meningkatkan
keadilan (equity) dan kesempatan pada siswa untuk mencapai hasil yang maksimal.
3. Meningkatkan
relevansi dan efektifitas pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik
maupun lingkungan sekitar peserta didik.
4. Meningkatkan
efektivitas kinerja guru maupun aktivitas siswa dalam mencapai tujuan
pembelajaran.
5. Meningkatkan
efisiensi dan efektivitas proses belajar mengajar.
6. Meningkatkan
partisipasi masyarakat untuk membantu mengmebangkan kurikulum.
Sedangkan
menurut Alexander Inglis dalam Oemar Hamalik (2007, hal. 13) , menjelaskan bahwa
kurikulum berfungsi sebagai fungsi penyesuaian, fungsi pengintegrasian, fungsi
diferensiasi, fungsi persiapan, fungsi pemilihan dan fungsi diagnostik.
D.
Tugas dan Peran Kepala Sekolah
dalam Manajemen Kurikulum
Secara umum tugas dan peran kepala sekolah memiliki lima dimensi
kompetensi sebagaimana termaktub pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madarasah, yaitu kompetensi
kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan kompetensi sosial.
Secara rinci kompetensi-kompetnsi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah dapat
dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 1
Kompetensi Kepala Sekolah
|
DIMENSI
KOMPETENSI
|
KOMPETENSI
|
|
1.
Kepribadian
|
· Berakhlak mulia, mengembangkan budaya dan tradisi
akhlak mulia, dan menjadi teladan akhlak mulia bagi komunitas di
sekolah/madrasah.
|
|
· Memiliki integritas kepribadian sebagai pemimpin.
|
|
|
· Memiliki keinginan yang kuat dalam pengembangan
diri sebagai kepala sekolah/madrasah.
|
|
|
· Bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok
dan fungsi.
|
|
|
· Mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dalam
pekerjaan sebagai kepala sekolah/madrasah.
|
|
|
· Memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin
pendidikan.
|
|
|
2.
Manajerial
|
· Menyusun perencanaan sekolah/madrasah untuk
berbagai tingkatan perencanaan.
|
|
· Mengembangkan organisasi sekolah/madrasah sesuai
dengan kebutuhan.
|
|
|
· Memimpin sekolah/madrasah dalam rangka
pendayagunaan sumber daya sekolah/madrasah secara optimal.
|
|
|
· Mengelola perubahan dan pengembangan
sekolah/madrasah menuju organisasi pembelajar yang efektif.
|
|
|
· Menciptakan budaya dan iklim sekolah/madrasah yang
kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik.
|
|
|
· Mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan
sumber daya manusia secara optimal.
|
|
|
· Mengelola sarana dan prasarana sekolah/madrasah
dalam rangka pendayagunaan secara optimal.
|
|
|
· Mengelola hubungan sekolah/madrasah dan masyarakat
dalam rangka pendirian dukungan ide, sumber belajar, dan pembinaan
sekolah/madrasah.
|
|
|
· Mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan
peserta didik baru, dan penempatan serta pengembangan kapasitas peserta
didik.
|
|
|
· Mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan
pembelajaran sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional.
|
|
|
· Mengelola keuangan sekolah/madrasah sesuai dengan
prinsip pengelolaan yang akuntabel, transparan, dan efisien.
|
|
|
· Mengelola ketatausahaan sekolah/madrasah dalam
mendukung pencapaian tujuan sekolah/madrasah.
|
|
|
· Mengelola unit layanan khusus sekolah/madrasah
dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di
sekolah/madrasah.
|
|
|
· Mengelola sistem informasi sekolah/madrasah dalam
mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan.
|
|
|
· Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi
peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah/madrasah.
|
|
|
· Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan
pelaksanaan program kegiatan sekolah/madrasah dengan prosedur yang tepat,
serta merencanakan tindak lanjut.
|
|
|
3.
Kewirausahaan
|
· Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan
sekolah/madrasah.
|
|
· Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan
sekolah/madrasah sebagai organisasi pembelajar yang efektif.
|
|
|
· Memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam
melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah/madrasah.
|
|
|
· Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik
dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah/madrasah.
|
|
|
· Memiliki jiwa kewirausahaan dalam mengelola
kegiatan produksi/jasa sekolah atau madrasah sebagai sumber belajar peserta
didik.
|
|
|
4.
Supervisi
|
· Merencanakan program supervisi akademik dalam
rangka peningkatan profesionalisme guru.
|
|
· Melaksanakan supervisi akademik terhadap guru
dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat.
|
|
|
· Menindaklanjuti hasil supervise akademik terhadap
guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.
|
|
|
5.
Sosial
|
· Bekerja sama dengan pihak lain untuk kepentingan
sekolah/madrasah.
|
|
· Berpartisipasi dalam kegiatan sosial
kemasyarakatan.
|
|
|
· Memiliki kepekaan sosial terhadap orang atau
kelompok lain.
|
Semua kompetensi di atas, di harapkan tercermin pada diri seorang
kepala sekolah dalam melaksanakan tugas dan perannya untuk menciptakan sekolah
yang berkualitas dan unggul.
E. Kedudukan Kurikulum Dalam Pendidikan
Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam
seluruh proses pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas
pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan dan kurikulum juga
merupakan suatu rencana pendidikan, memberikan pedoman dan pegangan tentang
jenis, lingkup, dan urutan isi serta proses pendidikan. Selain kedua fungsi di
atas, bagi para ahli atau spesialis kurikulum menjadi sumber konsep-konsep atau
memberikan landasan-landasan teoritis bagi pengembangan kurikulum berbagai
institusi pendidikan. (Sukmadinata, 2012, hal. 4)
F.
Perencanaan Kurikulum
Perencanaan
kurikulum adalah perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan
untuk membina siswa ke arah perubahan tingkah laku yang diinginkan dan menilai
sampai mana perubahan-perubahan telah terjadi pada diri siswa. Perencanaan
kurikulum mencakup pengumpulan, pembentukan, sintesis, menyeleksi informasi
yang relevan dari berbagai sumber. Kemudian informasi yang diperoleh dapat
digunakan untuk mendesain pengalaman belajar sehingga siswa dapat memperoleh
tujuan kurikulum yang diharapkan. (Rusman, 2009, hal. 21)
Tujuan
perencanaan kurikulum dikembangkan dalam bentuk kerangka teori dan penelitian
terhadap kekuatan sosial, pengembangan masyarakat, kebutuhan, dan gaya belajar
siswa. Di dalam perencanaan kurikulum minimal ada lima hal yang memengaruhi
perencanaan dan pembuatan keputusan, yaitu filosofis, konten/materi, manajemen
pembelajaran, pelatihan guru, dan sistem pembelajaran. (Rusman, 2009, hal. 21)
G.
Jenis-jenis Perencanaan
Perencanaan pengajaran yang sistematis meliputi berbagai
aspek, antara lain perencanaan permulaan, perencanaan tahunan, perencanaan hari
pertama, perencanaan terus menerus, perencanaan bersama, pengikutsertaan murid
dalam perencanaan, perencanaan jangka panjang, perencanaan harian dan mingguan,
rencana kerja harian, persiapan mengajar harian, resource unit, perencanaan
pengajaran unit, dan paket pembelajaran modular. (Hamalik, 2007, hal. 216)
H.
Model Kurikulum
Kurikulum dapat dikategorikan ke dalam emapt
kategori umum, yaitu humanistik, rekonstruksi sosial, teknologi, dan akademik.
Masing-masing kategori memiliki perbedaan dalam hal apa yang harus di ajarkan,
oleh siapa di ajarkan, kapan, dan bagaimana mengajarkannya.
1. Kurikulum Humanistik
Kurikulum humanistik mempunyai
beberapa karakteristik, berkenaan dengan tujuan, metode, organisasi isi dan
evaluasi. Menurut mereka, fungsi kurikulum adalah menyediakan pengalaman
berharga untuk membantu memperlancar perkembangan pribadi murid. Selain itu,
tujuan pendidikannya adalah proses perkembangan pribadi yang dinamis yang
berkaitan pada pertumbuhan, integritas, dan otonomi kepribadian, sikap yang
sehat terhadap diri sendiri, orang lain dan belajar. (Sukmadinata, 2012, hal. 90)
Dalam kurikulum humanistik, guru
diharapkan dapat membangun hubungan emosional yang baik dengan peserta didik,
mampu memberikan materi yang menarik dan menciptakan situasi yang dapat
memperlancar proses belajar. Selain itu, guru tidak dapat memaksakan sesuatu
apa yang tidak di senangi muridnya. (Sukmadinata, 2012, hal. 90)
Evaluasi kurikulum humanistik
berbeda dengan yang evaluasi pada umumnya. Model ini lebih mengutamakan proses
daripada hasil. Selain itu, kurikulum yang biasa terutama subjek akademis
mempunyai kriteria pencapaian, maka dalam kurikulum humanistik tidak ada
kriteria. Sebagai sesuatu yang alamiah, kurikulum humanistik memiliki kelemahan
seperti :
a. Keterlibatan emosional tidak selamanya berdampak positif bagi perkembangan
individual peserta didik;
b. Meskipun kurikulum ini sangat menekankan individu peserta didik, pada
kenyataannya di setiap program terdapat keseragaman peserta didik;
c. Kurikulum ini kurang memperhatikan kebutuhan masyarakat secara keseluruhan;
dan
d. Dalam kurikulum ini, prinsip-prinsip yang ada kurang terhubungkan.
2. Kurikulum Rekonstruksi Sosial
Kurikulum rekonstruksi sosial
sangat memperhatikan hubungan kurikulum dengan sosial masyarakat dan politik
perkembangan ekonomi. Kurikulum ini
bertujuan untuk menghadapkan peserta didik pada berbagai permasalahan manusia
dan kemanusiaan. Dalam kurikulum rekonstruksi sosial, guru berperan
menghubungkan tujuan peserta didik dengan manfaat lokal, nasional, dan
internasional. Para peserta didik diharapkan dapat menggunakan minatnya dalam
menemukan jawaban atas permasalahan sosial yang dibahas di kelas. Pembelajaran
yang dilakukan dalam kurikulum rekonstrusi sosial harus memenuhi tiga kriteria
berikut, yaitu nyata, membutuhkan tindakan, dan harus mengajarkan nilai. (Hamalik, 2007, hal. 146-147)
Evaluasi dalam kurikulum
rekonstruksi sosial mencakup spektrum yang luas, yaitu kemampuan peserta didik
dalam menyampaikan permasalahan, kemungkinan pemecahan masalah, pendefinisian kembali
pandangan mereka tentang dunia, dan kemauan tindakan atas suatu ide. Di samping
itu, peserta didik diharapkan dapat menilai pembelajaran mandiri yang sudah
dilakukan untuk melihat apa yang sudah mereka pelajari. Adapun kurikulum ini
akan sulit diimplementasikan pada negara yang berkonstelasi politik status quo.
(Hamalik,
2007, hal. 146)
3. Kurikulum Teknologi
Perspektif teknologi sebagai
kurikulum ditekankan pada efektivitas program metode dan material untuk mencapai
suatu manfaat dan keberhasilan. Teknologi mempengaruhi kurikulum dalam dua
cara, yaitu aplikasi dan teori. Aplikasi teknologi merupakan suatu rencana
penggunaan beragam alat atau media, atau tahapan basis instruksi. Sedangkan
sebagai teori, teknologi digunakan dalam pengembangan dan evaluasi material
kurikulum dan instruksional. Pandangan pertama menyatakan bahwa pemanfaatan
teknologi diarahkan pada bagaimana mengajarkannya, bukan apa yang diajarkannya.
Adapun pandangan kedua menyatakan bahwa teknologi diarahkan pada penerapan
tahapan instruksional. (Hamalik, 2007, hal. 147-148)
Teknologi berperan dalam
meningkatkan kualitas kurikulum dengan memberi kontribusi mengenai keefektifan
instruksional, tahapan instruksional, dan memantau perkembangan peserta didik.
Oleh karena itu, sangat beralasan bahwa dewasa ini semakin banyak kurikulum
yang efektif yang selaras dengan perkembangan teknologi. Meskipun biaya yang
dikeluarkan cukup besar, tapi sebanding dengan nilai yang di dapat.
Inti dari kurikulum teknologi adalah keyakinan bahwa materi kurikulum yang
digunakan oleh peserta didik seharusnya dapat menghasilkan kompetensi khusus
bagi mereka. Meskipun demikian, masih ada tiga permasalahan yang belum
terpecahkan dalam kurikulum teknologi ini, yaitu :
a. Kesalahan hierarki dalam prasyarat dan standar pemisahan dari penguasaan
belajar;
b. Ketidaktepatan penerapan dalam situasi yang tidak pasti; dan
c. Keterbatasan konsep individualisasi.
Sedangkan salah satu kelemahan
kurikulum teknologi ini adalah kurangnya perhatian pada penerapan dan dinamika
inovasi. Model teknologi ini hanya menekankan pengembangan efektivitas produk
saja, sedangkan perhatian untuk mengubah lingkungan yang lebih luas, seperti
organisasi sekolah, sikap guru, dan cara pandang masyarakat sangat kurang. (Hamalik, 2007, hal. 149)
4. Kurikulum Akademik
Kurikulum akademik bersumber
dari pendidikan klasik (perenialisme dan esensialisme) yang berorientasi pada
masa lalu. Fungsi pendidikannya adalah memelihara dan mewariskan hasil-hasil
budaya masa lalu. Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan. Isi
pendidikan di ambil dari setiap disiplin ilmu dengan konsep dasar dan metode
untuk mengamati, hubungan antar sesama, analisis data, dan penarikan
kesimpulan. (Sukmadinata, 2012, hal. 81)
Salah satu kelemahan dalam
pendekatan ini adalah kegagalan dalam memberikan perhatian pada yang lainnya
dan melihat bagaimana isi dan disiplin dapat membawa mereka pada permasalahan
kehidupan modern yang kompleks serta tidak dapat dipecahkan hanya satu disiplin
ilmu saja. (Hamalik, 2007, hal. 149)
BAB III
DESKRIPSI
DAN ANALISIS STUDI LAPANGAN
A. Deskripsi Hasil Studi Lapangan
Kami melakukan observasi pada hari selasa
tanggal 02 November 2013. Narasumber
yang kami wawancarai untuk mendapatkan informasi mengenai manajemen kurikulum
yaitu Bapak Ahmad Fauzi sebagai Wakil Bidang Kurikulum di Pribadi Bilingual
Boarding School
Secara
lengkapanya berikut hasil wawancara yang telah kami lakukan dengan
Narasumber bapak Ahmad Fauzi, diantaranya :
|
No
|
Pertanyaan
|
Jawaban
|
|
1.
|
Siapa yang membuat
atau menyusun kurikulum Pribadi Bilingual Boarding School.
|
kurikulum yang kami pakai sesuai dengan kurikulum yang
ditetapkan oleh pemerintah, tetapi dalam pelaksanaannya kami memiliki
strategi tersendiri, yaitu dalam penyampaian materi terhadap siswa.
|
|
2.
|
Siapa saja
tim pengembang kurikulum?
|
Untuk tim pengembang KTSP I meliputi Komite Sekolah,
Kepala Sekolah, perwakilan guru setiap mata pelajaran ,dan untuk KTSP II
meliputi guru-guru setiap mata
pelajaran untuk mengembangkan kurikulum.
|
|
3.
|
Bagaimana
supaya tercapainya tujuan kurikulum ?
|
Untuk tujuan pencapaian kurikulum di sekolah kami yang
berbasi bilingual ketika permulaan masuk, siswa belajar intensif bahasa
inggris selama tiga bulan.
|
|
5.
|
Untuk
tercapainya kurikulum tentu dibutuhkan dukungan dari berbagai elemen,
dukungan seperti apakah yang dibuutuhkan?
|
Dukungan yang dibutuhkan tentu dari seluruh elemen yang ada di sekolah,
dan bentuk dukungannya berupa kerjasama antara seluruh elemen yang ada dalam
pencapaian tujuan dari kurikulum itu sendiri
|
|
6.
|
Hambatan yang
dirasakan dengan kurikulum sekarang ?
|
Hambatan yang dirasakan dengan adanya kurikulum sekarang yaitu para guru
terasa terbebani dalam hal administrasi seperti harus membuat RPP, silabus,
Dll
|
|
7.
|
Fungsi
ekstrakulikuler dalam pencapaian dari tujuan kurikulum ?
|
Setiap siswa wajib mengikuti ekstrakulikuler yang ada, dan khusus untuk
kelas X wajib mengikkuti ekstra Pramuka dan untuk kelas XI bebas memilih
ekstra yang disukai.
|
|
8.
|
Untuk
evaluasi kurikulum di Pribadi Bilingual Boarding School itu dilakukan saat
pembelajaran berlangsung atau diakhir pembelajaran (diakhir semester) ?
|
Untuk evaluasi disekolah kami dilakukan setiap seminggu sekali yang
dilakukan pada hari sabtu.
|
|
9.
|
Program
pembelajaran seperti apa yang ada di sekolah Pribadi Bilingual Boarding School ?
|
Program pembelajaran di Pribadi Bilingual Boarding School semua pelajaran
menggunakan bahasa inggris, kecuali pelajaran IPS dan pelajaran bahasa
seperti Bahasa Indonesia, Turki dan Sunda. Referensi yang digunakan pun kami
menggunakan buku yang bertaraf internasional
|
|
10.
|
Bagaimana
pengaplikasian kurikulum yang diberikan oleh guru-guru terhadap siswa ?
|
Untuk pengajaran yang dilakukan oleh guru-guru disini klasikal, tidak
berbeda jauh dengan guru-guru yang lain bedanya yaitu dari cara pemberian
materi, dan pemberian tugas oleh guru-guru terhadap siswa.
|
|
11.
|
Harapan untuk
kurikulum di Pribadi Bilingual Boarding School ?
|
Harapan saya sebagai bagian kurikulum di Pribadi Bilingual Boarding
School adalah semoga pemerintah memfasilitasi guru-guru dalam mengembangkan
potensi peserta didik,sehingga guru mampu menciptakan strategi pembelajaran
yang menyenangkan dan efektif dengan
membuat RPP yang sesuai dengan
kevariatifan peserta didik, dan berharap guru mampu mengenal satu persatu
peserta didiknya.
|
B. Analisis Hasil Studi Lapangan
Berikut adalah analisis Strenghs, Weaknesses, Opportunities,
dan Threats (SWOT) dari hasil observasi di Pribadi Bilingual Boarding School.
1.
Strenghts
·
Sekolah
mempunyai strategi tersendiri dalam menjalankan pembelajaran yang sesuai dengan
kurikulum.
·
Sekolah
memfasilitasi siswa dengan program-program yang menunjang kesempatan siswa
untuk melanjutkan ke perguruan tinggi baik di dalam maupun di luar negeri.
·
Metode
pembiasaan dalam pembelajaran dengan menggunakan bahasa Inggris.
·
Adanya tambahan pembelajaran bahasa Turki
·
Sekolah mempunyai fasilitas yang sangat baik
bagi proses pembelajaran siswa disekolah.
2.
Weaknesses
·
Sedikitnya jurusan yang ada disekolah
tersebut/ hanya ada jurusan sains saja.
3.
Opportunities
·
Tumbuhnya
kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan yang bertaraf internasional, yang akan
memudahkan kelancaran masa depan anak-anak dari orang tua murid.
·
Adanya beasiswa sebesar US $ 100.000 per
tahunnya.
·
Adanya kerjasama antara sekolah dengan negara
turki.
4.
Threats
·
Mahalnya biaya masuk ke sekolah tersebut,
tidak semua kalangan masyarakat bisa bersekolah tersebut
·
Terbatasnya penerimaan kuantitas siswa/siswi
baru.
BAB IV
KESIMPULAN
DAN SARAN
1. Kesimpulan
Kurikulum yang digunakan oleh sekolah Pribadi
Bilingual Boarding School sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan oleh
pemerintah. Namun, dalam pelaksanaannya sekolah ini mempunyai cara tersendiri
yaitu materi yang disampaikan tidak berurutan sesuai dengan kurikulum. Buku
referensi yang digunakan pun bertaraf Internasional. Dalam pelaksanaan
pembelajaran bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris, kecuali pelajaran
bahasa Indonesia dan bahasa Sunda.
2. Saran
Hendaknya pendidik mampu memiliki sifat kreatif dan
inovatif dalam menjalankan kurikulum yang ada agar proses pembelajaran tidak
terpaku pada kurikulum yang telah di tetapkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Hamalik, O. (2007). Dasar-dasar
Pengembangan Kurikulum. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Pidarta, M. (2004). Manajemen Pendidikan Indonesia
(2 ed.). Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Rusman. (2009). Manajemen Kurikulum (1 ed.).
Jakarta: Rajawali Pers.
Sukmadinata, N. S. (2012). Pengembangan Kurikulum Teori
dan Praktek (15 ed.). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
UPI, T. P. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran.
Bandung: Jurusan Kurtekpend FIP.
No comments:
Post a Comment