Monday, 21 December 2015

Manajemen berbasis sekolah (MBS)

ABSTRAK


            Manajemen ialah proses mengintegrasikan sumber-sumber yang tidak berhubungan menjadi sistem total untuk menyelesaikan suatu tujuan. Adapun maksud sumber di sini ialah mencakup orang-orang, alat-alat, media, bahan-bahan, uang dan sarana. Manajemen kurikulum merupakan bagian integral dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Lingkup manajemen kurikulum meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum.
            Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan dan kurikulum juga merupakan suatu rencana pendidikan, memberikan pedoman dan pegangan tentang jenis, lingkup, dan urutan isi serta proses pendidikan.











KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Allah yang telah memberikan banyak kenikmatan, salah satunya adalah kenikmatan ilmu sehingga laporan yang berjudul Manajemen Kurikulum dapat terselesaikan. Selanjutnya semoga shalawat serta salam tetap tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad saw yang telah membimbing kita semua dari zaman jahiliyah ke jalan yang terang benderang seperti sekarang ini.
            Penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada Dr. Anton Athoillah, MM, sebagai dosen pengempu mata kuliah Manajemen Strategik, Program Pascasarjana  Universitas Islam Negeri Sunan gunung djati Bandung, yang telah mengantarkan ilmu kepada kami dan penyusun mengucapkan terima kasih juga kepada teman-teman yang telah memberikan masukan dan partisipasinya dalam pembuatan laporan ini. Semoga apa yang telah dilakukan oleh bapak dan teman-teman mendapatkan balasan yang berlipat-lipat dari Allah swt.
Laporan ini masih jauh dari kata sempurna sebagaimana yang diharapkan. Namun, semoga dapat berguna bagi masyarakat umumnya dan khususnya bagi kami. Amin


    Bandung, November 2015


                                                                                                   Penyusun
                                                                                                   Adimaja

 


DAFTAR ISI







 














BAB I

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah

                Salah satu aspek yang berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan Nasional adalah aspek kurikulum. Kurikulum memiliki peran strategis dalam pendidikan sebab berkaitan dengan penentuan arah, isi, dan proses pendidikan yang pada akhirnya menentukan macam dan kualifikasi lulusan suatu lembaga pendidikan. Kurikulum juga menyangkut rencana dan pelaksanaan pendidikan baik dalam lingkup kelas, sekolah, daerah, wilayah, maupun nasional.
Di samping itu, paradigma pendidikan dan pilar-pilar pembelajaran yang telah dicanangkan oleh pemerintah harus menjadi landasan dalam pengembangan kurikulum (desain, implementasi, manajemen, supervisi, dan evaluasi kurikulum) di setiap lembaga pendidikan. Selain itu juga, salah satu aspek yang dapat mempengaruhi keberhasilan kurikulum adalah pemberdayaan bidang manajemen atau pengelolaan pendidikan di lembaga pendidikan yang bersangkutan. Pengelolaan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan atau sekolah perlu dikoordinasikan oleh pihak pimpinan lembaga dan pembantu pimpinan yang dikembangkan secara integral dan disesuaikan dengan visi dan misi lembaga pendidikan yang bersangkutan. Oleh karena itu, penyusun mengadakan observasi untuk melihat kesesuaian antara teori dan praktek di lapangan ke lembaga pendidikan Pribadi Bilingual Boarding School mengenai kurikulum yang diterapkan di sekolah tersebut.  

B.     Tujuan Studi Lapangan

            Tujuan diadakannya studi lapangan ini adalah untuk mengetahui kurikulum yang digunakan oleh sekolah terkait, lalu untuk mengetahui hambatan-hambatan yang dirasa dengan penggunaan kurikulum tersebut.

C.    Manfaat Studi Lapangan

            Dengan diadakannya studi lapangan ini penulis dapat mengetahui kurikulum yang digunakan oleh sekolah terkait, dan penulis dapat mengetahui hambatan-hambatan yang ada.

D.    Lokasi & Sumber Studi Lapangan

            Lokasi studi lapangan bertempat di Pribadi Bilingual Boarding School yang berada di Jl. PHH. Mushtofa no. 41 kota Bandung dengan narasumber Bapak Ahmad Fauzi sebagai wakil kepala sekolah bidang kurikulum.  

 

 




 

 

 

 






BAB II

LANDASAN TEORI


A.    Pengertian Manajemen Kurikulum

Manajemen ialah proses mengintegrasikan sumber-sumber yang tidak berhubungan menjadi sistem total untuk menyelesaikan suatu tujuan. Adapun maksud sumber di sini ialah mencakup orang-orang, alat-alat, media, bahan-bahan, uang dan sarana. Semua itu diarahkan dan dikoordinasikan agar terpusat dalam rangka menyelesaikan tujuan. (Pidarta, 2004, hal. 3)  
Sedangkan istilah kurikulum (curriculum) berasal dari kata curir (pelari) dan curere (tempat berpacu), dan pada awalnya digunakan dalam dunia olahraga. Pada saat itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finish untuk memperoleh medali atau penghargaan. Kemudian pengertian kurikulum tersebut diterapkan dalam dunia pendidikan menjadi sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal sampai akhir program pelajaran untuk memperoleh penghargaan dalam bentuk ijazah. (UPI, 2009, hal. 2). Selain itu, pengertian kurikulum dapat di artikan sebagai berikut : kurikulum sebagai suatu program kegiatan yang terencana, kurikulum sebagai hasil belajar yang diharapkan, kurikulum sebagai reproduksi kultural, kurikulum sebagai kumpulan tugas dan konsep diskrit, kurikulum sebagai agenda rekonstruksi sosial, kurikulum sebagai currere. (Hamalik, 2007, hal. 3-8). Adapun menurut istilah, Saylor, Alexander, dan Lewis (Rusman, 2009, p. 3) mendefinisikan kurikulum sebagai berikut segala upaya sekolah untuk memengaruhi siswa agar dapat belajar, baik dalam ruangan kelas maupun di luar sekolah. Sementara itu, Harold B. Alberty (Rusman, 2009, p. 3) memandang kurikulum sebagai semua kegiatan yang diberikan kepada siswa di bawah tanggung jawab sekolah (all of activities that are provided for the students by the school). Jadi, bisa di simpulkan dari pengertian di atas bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. (Rusman, 2009, p. 3)
Jadi, Manajemen kurikulum adalah sebagai suatu sistem pengelolaan kurikulum yang kooperatif, komprehensif, sistemik dan sistematik dalam rangka ketercapaian tujuan kurikulum. (Rusman, 2009, p. 3)

B.     Ruang Lingkup Manajemen Kurikulum

                        Manajemen kurikulum merupakan bagian integral dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Lingkup manajemen kurikulum meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum. Pada tingkat satuan pendidikan kegiatan kurikulum lebih mengutamakan untuk merealisasikan dan merelevansikan antara kurikulum nasional (standar kompetensi/kompetensi dasar) dengan kebutuhan daerah dan kondisi sekolah yang bersangkutan, sehingga kurikulum tersebut merupakan kurikulum yang integrasi dengan peserta didik maupun dengan lingkungan di mana sekolah itu berada. (Rusman, 2009, p. 4)

C.    Prinsip dan Fungsi Manajemen Kurikulum

            Terdapat lima prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakan manajemen kurikulum, yaitu sebagai berikut:
1.      Produktivitas, hasil yang akan diperoleh dalam kegiatan kurikulum merupakan aspek yang harus dipertimbangkan dalam manajemen kurikulum. Pertimbangan bagaimana agar peserta didik dapat mencapai hasil belajar sesuai dengan tujuan kurikulum harus menjadi sasaran dalam manajemen kurikulum. 
2.      Demokratisasi, pelaksanaan manajemen kurikulum harus berasaskan demokrasi yang menempatkan pengelola, pelaksana, dan subjek didik pada posisi yang seharusnya dalam melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab untuk mencapai tujuan kurikulum.
3.      Kooperatif, untuk memperoleh hasil yang diharapkan dalam kegiatan manajemen kurikulum perlu adanya kerja sama yang positif dari berbagai pihak yang terkait.
4.      Efektivitas dan efisiensi, rangkaian kegiatan manajemen kurikulum harus mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi untuk mencapai tujuan kurikulum sehingga kegiatan manajemen kurikulum tersebut memberikan hasil yang berguna dengan biaya, tenaga, dan waktu yang relatif singkat.
5.      Mengarahkan visi, misi, dan tujuan yang ditetapkan dalam kurikulum, proses manajemen harus dapat memperkuat dan mengarahkan visi, misi, dan tujuan kurikulum.
            Selain prinsip-prinsip tersebut juga perlu dipertimbangkan kebijaksanaan pemerintah maupun Departemen Pendidikan Nasional, seperti USPN No. 20 tahun 2003, kurikulum pola Nasional, pedoman penyelenggaraan program, kebijaksanaan penerapan Manajemen Berbasis Sekolah, kebijaksanaan penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), keputusan dan peraturan pemerintah yang berhubungan dengan lembaga pendidikan atau jenjang/jenis sekolah yang bersangkutan. (Rusman, 2009, hal. 4)
            Dalam proses pendidikan perlu dilaksanakan manajemen kurikulum agar perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum berjalan lebih efektif, efisien, dan optimal dalam memberdayakan berbagai sumber belajar, pengalaman belajar, maupun komponen kurikulum. Ada beberapa fungsi dari manajemen kurikulum di antaranya sebagai berikut :
1.      Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya kurikulum.
2.      Meningkatkan keadilan (equity) dan kesempatan pada siswa untuk mencapai hasil yang maksimal.
3.      Meningkatkan relevansi dan efektifitas pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan sekitar peserta didik.
4.      Meningkatkan efektivitas kinerja guru maupun aktivitas siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.
5.      Meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses belajar mengajar.
6.      Meningkatkan partisipasi masyarakat untuk membantu mengmebangkan kurikulum.
            Sedangkan menurut Alexander Inglis dalam Oemar Hamalik (2007, hal. 13), menjelaskan bahwa kurikulum berfungsi sebagai fungsi penyesuaian, fungsi pengintegrasian, fungsi diferensiasi, fungsi persiapan, fungsi pemilihan dan fungsi diagnostik.

D.    Tugas dan Peran Kepala Sekolah dalam Manajemen Kurikulum

                        Secara umum tugas dan peran kepala sekolah memiliki lima dimensi kompetensi sebagaimana termaktub pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madarasah, yaitu kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan kompetensi sosial. Secara rinci kompetensi-kompetnsi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 1
Kompetensi Kepala Sekolah

DIMENSI KOMPETENSI
KOMPETENSI
1.      Kepribadian
·   Berakhlak mulia, mengembangkan budaya dan tradisi akhlak mulia, dan menjadi teladan akhlak mulia bagi komunitas di sekolah/madrasah.
·   Memiliki integritas kepribadian sebagai pemimpin.
·   Memiliki keinginan yang kuat dalam pengembangan diri sebagai kepala sekolah/madrasah.
·   Bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi.
·   Mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dalam pekerjaan sebagai kepala sekolah/madrasah.
·   Memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin pendidikan.
2.      Manajerial
·   Menyusun perencanaan sekolah/madrasah untuk berbagai tingkatan perencanaan.
·   Mengembangkan organisasi sekolah/madrasah sesuai dengan kebutuhan.
·   Memimpin sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan sumber daya sekolah/madrasah secara optimal.
·   Mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/madrasah menuju organisasi pembelajar yang efektif.
·   Menciptakan budaya dan iklim sekolah/madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik.
·   Mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal.
·   Mengelola sarana dan prasarana sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan secara optimal.
·   Mengelola hubungan sekolah/madrasah dan masyarakat dalam rangka pendirian dukungan ide, sumber belajar, dan pembinaan sekolah/madrasah.
·   Mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik baru, dan penempatan serta pengembangan kapasitas peserta didik.
·   Mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional.
·   Mengelola keuangan sekolah/madrasah sesuai dengan prinsip pengelolaan yang akuntabel, transparan, dan efisien.
·   Mengelola ketatausahaan sekolah/madrasah dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah/madrasah.
·   Mengelola unit layanan khusus sekolah/madrasah dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di sekolah/madrasah.
·   Mengelola sistem informasi sekolah/madrasah dalam mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan.
·   Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah/madrasah.
·   Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah/madrasah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjut.
3.      Kewirausahaan
·   Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasah.
·   Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasi pembelajar yang efektif.
·   Memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah/madrasah.
·   Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah/madrasah.
·   Memiliki jiwa kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi/jasa sekolah atau madrasah sebagai sumber belajar peserta didik.
4.      Supervisi
·   Merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.
·   Melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat.
·   Menindaklanjuti hasil supervise akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.
5.      Sosial
·   Bekerja sama dengan pihak lain untuk kepentingan sekolah/madrasah.
·   Berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
·   Memiliki kepekaan sosial terhadap orang atau kelompok lain.

                        Semua kompetensi di atas, di harapkan tercermin pada diri seorang kepala sekolah dalam melaksanakan tugas dan perannya untuk menciptakan sekolah yang berkualitas dan unggul.

E.     Kedudukan Kurikulum Dalam Pendidikan

                                Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan dan kurikulum juga merupakan suatu rencana pendidikan, memberikan pedoman dan pegangan tentang jenis, lingkup, dan urutan isi serta proses pendidikan. Selain kedua fungsi di atas, bagi para ahli atau spesialis kurikulum menjadi sumber konsep-konsep atau memberikan landasan-landasan teoritis bagi pengembangan kurikulum berbagai institusi pendidikan. (Sukmadinata, 2012, hal. 4)

F.     Perencanaan Kurikulum

                        Perencanaan kurikulum adalah perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membina siswa ke arah perubahan tingkah laku yang diinginkan dan menilai sampai mana perubahan-perubahan telah terjadi pada diri siswa. Perencanaan kurikulum mencakup pengumpulan, pembentukan, sintesis, menyeleksi informasi yang relevan dari berbagai sumber. Kemudian informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk mendesain pengalaman belajar sehingga siswa dapat memperoleh tujuan kurikulum yang diharapkan. (Rusman, 2009, hal. 21)
                        Tujuan perencanaan kurikulum dikembangkan dalam bentuk kerangka teori dan penelitian terhadap kekuatan sosial, pengembangan masyarakat, kebutuhan, dan gaya belajar siswa. Di dalam perencanaan kurikulum minimal ada lima hal yang memengaruhi perencanaan dan pembuatan keputusan, yaitu filosofis, konten/materi, manajemen pembelajaran, pelatihan guru, dan sistem pembelajaran. (Rusman, 2009, hal. 21)      

G.    Jenis-jenis Perencanaan

                Perencanaan pengajaran yang sistematis meliputi berbagai aspek, antara lain perencanaan permulaan, perencanaan tahunan, perencanaan hari pertama, perencanaan terus menerus, perencanaan bersama, pengikutsertaan murid dalam perencanaan, perencanaan jangka panjang, perencanaan harian dan mingguan, rencana kerja harian, persiapan mengajar harian, resource unit, perencanaan pengajaran unit, dan paket pembelajaran modular. (Hamalik, 2007, hal. 216)

H.    Model Kurikulum

                                Kurikulum dapat dikategorikan ke dalam emapt kategori umum, yaitu humanistik, rekonstruksi sosial, teknologi, dan akademik. Masing-masing kategori memiliki perbedaan dalam hal apa yang harus di ajarkan, oleh siapa di ajarkan, kapan, dan bagaimana mengajarkannya.
1.      Kurikulum Humanistik
      Kurikulum humanistik mempunyai beberapa karakteristik, berkenaan dengan tujuan, metode, organisasi isi dan evaluasi. Menurut mereka, fungsi kurikulum adalah menyediakan pengalaman berharga untuk membantu memperlancar perkembangan pribadi murid. Selain itu, tujuan pendidikannya adalah proses perkembangan pribadi yang dinamis yang berkaitan pada pertumbuhan, integritas, dan otonomi kepribadian, sikap yang sehat terhadap diri sendiri, orang lain dan belajar. (Sukmadinata, 2012, hal. 90)
      Dalam kurikulum humanistik, guru diharapkan dapat membangun hubungan emosional yang baik dengan peserta didik, mampu memberikan materi yang menarik dan menciptakan situasi yang dapat memperlancar proses belajar. Selain itu, guru tidak dapat memaksakan sesuatu apa yang tidak di senangi muridnya. (Sukmadinata, 2012, hal. 90)
      Evaluasi kurikulum humanistik berbeda dengan yang evaluasi pada umumnya. Model ini lebih mengutamakan proses daripada hasil. Selain itu, kurikulum yang biasa terutama subjek akademis mempunyai kriteria pencapaian, maka dalam kurikulum humanistik tidak ada kriteria. Sebagai sesuatu yang alamiah, kurikulum humanistik memiliki kelemahan seperti :
a.       Keterlibatan emosional tidak selamanya berdampak positif bagi perkembangan individual peserta didik;
b.      Meskipun kurikulum ini sangat menekankan individu peserta didik, pada kenyataannya di setiap program terdapat keseragaman peserta didik;
c.       Kurikulum ini kurang memperhatikan kebutuhan masyarakat secara keseluruhan; dan
d.      Dalam kurikulum ini, prinsip-prinsip yang ada kurang terhubungkan.
2.      Kurikulum Rekonstruksi Sosial
      Kurikulum rekonstruksi sosial sangat memperhatikan hubungan kurikulum dengan sosial masyarakat dan politik perkembangan ekonomi.  Kurikulum ini bertujuan untuk menghadapkan peserta didik pada berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan. Dalam kurikulum rekonstruksi sosial, guru berperan menghubungkan tujuan peserta didik dengan manfaat lokal, nasional, dan internasional. Para peserta didik diharapkan dapat menggunakan minatnya dalam menemukan jawaban atas permasalahan sosial yang dibahas di kelas. Pembelajaran yang dilakukan dalam kurikulum rekonstrusi sosial harus memenuhi tiga kriteria berikut, yaitu nyata, membutuhkan tindakan, dan harus mengajarkan nilai. (Hamalik, 2007, hal. 146-147)
      Evaluasi dalam kurikulum rekonstruksi sosial mencakup spektrum yang luas, yaitu kemampuan peserta didik dalam menyampaikan permasalahan, kemungkinan pemecahan masalah, pendefinisian kembali pandangan mereka tentang dunia, dan kemauan tindakan atas suatu ide. Di samping itu, peserta didik diharapkan dapat menilai pembelajaran mandiri yang sudah dilakukan untuk melihat apa yang sudah mereka pelajari. Adapun kurikulum ini akan sulit diimplementasikan pada negara yang berkonstelasi politik status quo. (Hamalik, 2007, hal. 146)
3.      Kurikulum Teknologi
      Perspektif teknologi sebagai kurikulum ditekankan pada efektivitas program metode dan material untuk mencapai suatu manfaat dan keberhasilan. Teknologi mempengaruhi kurikulum dalam dua cara, yaitu aplikasi dan teori. Aplikasi teknologi merupakan suatu rencana penggunaan beragam alat atau media, atau tahapan basis instruksi. Sedangkan sebagai teori, teknologi digunakan dalam pengembangan dan evaluasi material kurikulum dan instruksional. Pandangan pertama menyatakan bahwa pemanfaatan teknologi diarahkan pada bagaimana mengajarkannya, bukan apa yang diajarkannya. Adapun pandangan kedua menyatakan bahwa teknologi diarahkan pada penerapan tahapan instruksional. (Hamalik, 2007, hal. 147-148)
      Teknologi berperan dalam meningkatkan kualitas kurikulum dengan memberi kontribusi mengenai keefektifan instruksional, tahapan instruksional, dan memantau perkembangan peserta didik. Oleh karena itu, sangat beralasan bahwa dewasa ini semakin banyak kurikulum yang efektif yang selaras dengan perkembangan teknologi. Meskipun biaya yang dikeluarkan cukup besar, tapi sebanding dengan nilai yang di dapat.
Inti dari kurikulum teknologi adalah keyakinan bahwa materi kurikulum yang digunakan oleh peserta didik seharusnya dapat menghasilkan kompetensi khusus bagi mereka. Meskipun demikian, masih ada tiga permasalahan yang belum terpecahkan dalam kurikulum teknologi ini, yaitu :
a.       Kesalahan hierarki dalam prasyarat dan standar pemisahan dari penguasaan belajar;
b.      Ketidaktepatan penerapan dalam situasi yang tidak pasti; dan
c.       Keterbatasan konsep individualisasi.
      Sedangkan salah satu kelemahan kurikulum teknologi ini adalah kurangnya perhatian pada penerapan dan dinamika inovasi. Model teknologi ini hanya menekankan pengembangan efektivitas produk saja, sedangkan perhatian untuk mengubah lingkungan yang lebih luas, seperti organisasi sekolah, sikap guru, dan cara pandang masyarakat sangat kurang. (Hamalik, 2007, hal. 149)
4.      Kurikulum Akademik
      Kurikulum akademik bersumber dari pendidikan klasik (perenialisme dan esensialisme) yang berorientasi pada masa lalu. Fungsi pendidikannya adalah memelihara dan mewariskan hasil-hasil budaya masa lalu. Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan. Isi pendidikan di ambil dari setiap disiplin ilmu dengan konsep dasar dan metode untuk mengamati, hubungan antar sesama, analisis data, dan penarikan kesimpulan. (Sukmadinata, 2012, hal. 81)       
      Salah satu kelemahan dalam pendekatan ini adalah kegagalan dalam memberikan perhatian pada yang lainnya dan melihat bagaimana isi dan disiplin dapat membawa mereka pada permasalahan kehidupan modern yang kompleks serta tidak dapat dipecahkan hanya satu disiplin ilmu saja. (Hamalik, 2007, hal. 149)      











      

BAB III

DESKRIPSI DAN ANALISIS STUDI LAPANGAN


A.    Deskripsi Hasil Studi Lapangan


Kami melakukan observasi pada hari selasa tanggal  02 November 2013. Narasumber yang kami wawancarai untuk mendapatkan informasi mengenai manajemen kurikulum yaitu Bapak Ahmad Fauzi sebagai Wakil Bidang Kurikulum di Pribadi Bilingual Boarding School
Secara  lengkapanya berikut hasil wawancara yang telah kami lakukan dengan Narasumber bapak Ahmad Fauzi, diantaranya :

No
Pertanyaan
Jawaban
1.
Siapa yang membuat  atau menyusun kurikulum Pribadi Bilingual Boarding School.

kurikulum yang kami pakai sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah, tetapi dalam pelaksanaannya kami memiliki strategi tersendiri, yaitu dalam penyampaian materi terhadap siswa.
 2.
Siapa saja tim pengembang kurikulum?
Untuk tim pengembang KTSP I meliputi Komite Sekolah, Kepala Sekolah, perwakilan guru setiap mata pelajaran ,dan untuk KTSP II meliputi  guru-guru setiap mata pelajaran untuk mengembangkan kurikulum.
3.
Bagaimana supaya tercapainya tujuan kurikulum ?

Untuk tujuan pencapaian kurikulum di sekolah kami yang berbasi bilingual ketika permulaan masuk, siswa belajar intensif bahasa inggris selama tiga bulan.
5.
Untuk tercapainya kurikulum tentu dibutuhkan dukungan dari berbagai elemen, dukungan seperti apakah yang dibuutuhkan?
Dukungan yang dibutuhkan tentu dari seluruh elemen yang ada di sekolah, dan bentuk dukungannya berupa kerjasama antara seluruh elemen yang ada dalam pencapaian tujuan dari kurikulum itu sendiri
6.
Hambatan yang dirasakan dengan kurikulum sekarang ?
Hambatan yang dirasakan dengan adanya kurikulum sekarang yaitu para guru terasa terbebani dalam hal administrasi seperti harus membuat RPP, silabus, Dll
7.
Fungsi ekstrakulikuler dalam pencapaian dari tujuan kurikulum ?
Setiap siswa wajib mengikuti ekstrakulikuler yang ada, dan khusus untuk kelas X wajib mengikkuti ekstra Pramuka dan untuk kelas XI bebas memilih ekstra yang disukai.
8.
Untuk evaluasi kurikulum di Pribadi Bilingual Boarding School itu dilakukan saat pembelajaran berlangsung atau diakhir pembelajaran (diakhir semester) ?
Untuk evaluasi disekolah kami dilakukan setiap seminggu sekali yang dilakukan pada hari sabtu.
9.
Program pembelajaran seperti apa yang ada di sekolah  Pribadi Bilingual Boarding School ?

Program pembelajaran di Pribadi Bilingual Boarding School semua pelajaran menggunakan bahasa inggris, kecuali pelajaran IPS dan pelajaran bahasa seperti Bahasa Indonesia, Turki dan Sunda. Referensi yang digunakan pun kami menggunakan buku yang bertaraf internasional

10.
Bagaimana pengaplikasian kurikulum yang diberikan oleh guru-guru  terhadap siswa ?
Untuk pengajaran yang dilakukan oleh guru-guru disini klasikal, tidak berbeda jauh dengan guru-guru yang lain bedanya yaitu dari cara pemberian materi, dan pemberian tugas oleh guru-guru terhadap siswa.
11.
Harapan untuk kurikulum di Pribadi Bilingual Boarding School ?
Harapan saya sebagai bagian kurikulum di Pribadi Bilingual Boarding School adalah semoga pemerintah memfasilitasi guru-guru dalam mengembangkan potensi peserta didik,sehingga guru mampu menciptakan strategi pembelajaran yang menyenangkan  dan efektif dengan membuat RPP  yang sesuai dengan kevariatifan peserta didik, dan berharap guru mampu mengenal satu persatu peserta didiknya.

B.     Analisis Hasil Studi Lapangan

                        Berikut adalah analisis Strenghs, Weaknesses, Opportunities, dan Threats (SWOT) dari hasil observasi di Pribadi Bilingual Boarding School.
1.      Strenghts
·         Sekolah mempunyai strategi tersendiri dalam menjalankan pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum.
·         Sekolah memfasilitasi siswa dengan program-program yang menunjang kesempatan siswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi baik di dalam maupun di luar negeri.
·         Metode pembiasaan dalam pembelajaran dengan menggunakan bahasa Inggris.
·         Adanya tambahan pembelajaran bahasa Turki
·         Sekolah mempunyai fasilitas yang sangat baik bagi proses pembelajaran siswa disekolah.
2.      Weaknesses
·         Sedikitnya jurusan yang ada disekolah tersebut/ hanya ada jurusan sains saja.
3.      Opportunities
·         Tumbuhnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan yang bertaraf internasional, yang akan memudahkan kelancaran masa depan anak-anak dari orang tua murid.
·         Adanya beasiswa sebesar US $ 100.000 per tahunnya.
·         Adanya kerjasama antara sekolah dengan negara turki.

4.      Threats
·      Mahalnya biaya masuk ke sekolah tersebut, tidak semua kalangan masyarakat bisa bersekolah tersebut
·      Terbatasnya penerimaan kuantitas siswa/siswi baru.

































BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN


1.      Kesimpulan

                                Kurikulum yang digunakan oleh sekolah Pribadi Bilingual Boarding School sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah. Namun, dalam pelaksanaannya sekolah ini mempunyai cara tersendiri yaitu materi yang disampaikan tidak berurutan sesuai dengan kurikulum. Buku referensi yang digunakan pun bertaraf Internasional. Dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris, kecuali pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Sunda.

2.      Saran 

                Hendaknya pendidik mampu memiliki sifat kreatif dan inovatif dalam menjalankan kurikulum yang ada agar proses pembelajaran tidak terpaku pada kurikulum yang telah di tetapkan.











DAFTAR PUSTAKA


 

Hamalik, O. (2007). Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Pidarta, M. (2004). Manajemen Pendidikan Indonesia (2 ed.). Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Rusman. (2009). Manajemen Kurikulum (1 ed.). Jakarta: Rajawali Pers.
Sukmadinata, N. S. (2012). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek (15 ed.). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
UPI, T. P. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: Jurusan Kurtekpend FIP.






No comments:

Post a Comment