Hakikat Bahasa
Hakikat bahasa
menurut Harimurti Kridalaksana dalam Kamus Linguistik edisi ketiga adalah
sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota suatu
masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.
Sementara menurut H. Douglas Brown dalam bukunya Henry Guntur Tarigan
“Pengajaran Pragmatik” menyebutkan hakikat bahasa sebagai suatu sistem yang
sistematis, barangkali juga untuk sistem generatif; seperangkat lambang-lambang
mana suka atau simbol-simbol arbitrer. Abdul Chaer dan Leonie Agustina
menyebutkan hakikat bahasa dalam buku “Pragmatik: Perkenalan Awal” yaitu sebuah
sistem, artinya, bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara
tetap dan dapat dikaidahkan.
Sapir (1921) dalam A. Chaedar Alwasilah (1990) bahwa bahasa adalah “A purely
human and non-instinctive method of communicating ideas, emotions, and desires,
by means of a system of voluntarily produced symbols.” Di samping itu, A. S.
Hornby (1996) dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary, menyatakan bahasa
adalah sistem bunyi dan kata yang digunakan manusia untuk mengekspresikan
pikiran dan perasaannya.
Hakikat bahasa adalah suatu konsep yang mendasar tentang bahasa. Hakikat
bahasa ini antara lain:
Bahasa sebagai sistem.
1.
Kata sistem dalam keilmuan dapat dipahami sebagai
susunan yang teratur, berpola, membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau
berfungsi. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa bahasa memiliki sifat yang
teratur, berpola, memiliki makna dan fungsi. Sistematis diartikan pula bahwa
bahasa itu tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun acak. Karenanya, sebagai
sebuah sitem, bahasa juga sistemik. Sistematik atau sistematis maksudnya bahasa
itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi juga terdiri atas sub-subsistem atau
sistem bawahan. Di sini dapat disebutkan subsistem-subsistem itu antara lain; subsistem
fonologi, subsistem morfologi, subsistem sintaksis, subsistem semantik.
Maka, sebagai sebuah sistem, bahasa berfungsi untuk memilah kajian morfologi,
fonologi, sintaksi, dan semantik.
Sebagai sebuah sistem, bahasa
memiliki konsep sistematis dan sistemik. Sistematis dapat diartikan bahwa bahasa itu tersusun menurut suatu pola yang selalu berkaitan, tidak tersusun acak. Selain sistematis, bahasa juga sistemik. Sistemik maksudnya bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal,
tetapi juga terdiri atas sub-sub sistem atau sistem bawahan. Subsistem-subsistem itu antara lain: subsistem fonologi,
subsistem morfologi, subsistem sintaksis,
subsistem semantik. Dengan demikian, sebagai sebuah sistem, bahasa berfungsi untuk memilah kajian morfologi, fonologi,
sintaksi, dan semantik.
Sebagaia
sebuah system, bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Dengan
sistematis Artinya bahasa itu tersusun menurut suatu pola tidak tersusun secara
acak, secara sembarangan, sedangkan sistemis artinya bahasa itu bukan merupakan
system tunggal tatapi terdiri juga dari sub-subsistem atau system bawahan.
Disini dapat disebutkan antara lain, subsistem fonologi, subsistem morfologi,
dan subsistem sintaksis, dan subsistem semantic. Bandingkanlah dengan sebuah
sepeda yang terdiri juga dari subsistem kemudi, subsistem pedal, dan subsistem
roda. Tiap unsure dalam setiap subsistem juga tersusun menurut aturan atau pola
tertentu, yang secara keseluruhan membentuk stua system. Jika tidak tersusun
menurut atuaran atau pola tertentu maka subsistem itupun tidak berfungsi.
Bahasa
sebagai salah satu unsur penting dalam berkomunikasi antar anggota masyarakat,
mengsyaratkan adanya interaksi dan tindak yang saling memahami, sehingga
terjalin situasi komunikasi yang baik. Adanya ketidakpahaman atas unsur bahasa
ketika melakukan tindak komunikasi akan menciptakan kesalah pahaman. Oleh
karena itu, bahasa harus mengandung keteraturan dalam sebuah sistem yang
memungkinkan setiap anggota masyarakat dapat memahaminya. Jadi, bahasa sebagai
sebuah sistem terdiri atas sejumlah unsur yang teratur yang dapat dipahami oleh
masyarakat pemakainya.
Contoh:
- akngan
kasam
- nangka
masak
Bahasa
sebagai satuan yang sistemis terdiri atas subsistem fonologi, gramatika, dan
leksikon. Fonologi adalah ilmu yang mempelajari bunyi bahasa. Adanya perbedaan
bunyi dalam pengucapan satu kata, misalnya, akan menghasilkan makna yang berbeda
atas satuan bahasa itu.
Perhatikan
contoh berikut:
- batak-botak-batuk-batik-butik-butek
- Bahasa itu arbitrer
Kata arbitrer
mengandung arti manasuka. Tetapi istilah arbitrer disini adalah tidak adanya
hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi) dengan konsep atau
pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut (Chaer 1994:45). Yang dimaksud dengan arbitrer
adalah tidak adanya hubungan langsung yang bersifat wajib antara lambang dengan
yang dilambangkannya. Dengan kata lain, hubungan antara bahasa dan wujud
bendanya hanya didasarkan pada kesepakatan antara penurut bahasa di dalam
masyarakat bahasa yang bersangkutan. Misalnya, lambang bahasa yang berwujud
bunyi kuda dengan rujukannya yaitu seekor binatang berkaki empat yang biasa
dikendarai, tidak ada hubungannya sama sekali, tidak ada ciri alamiahnya
sedikit pun.
Arbitrer dapat
diartikan ‘sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka’. Arbitrer
diartikan pula dengan tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang
berwujud bunyi) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang
tersebut. Hal ini berfungsi untuk memudahkan orang dalam melakukan tindakan
kebahasaan.
Arbitrer dapat diartikan
sewenag-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka. Arbitrer diartikan pula
dengan tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi)
dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut. Hal ini
berfungsi untuk memudahkan orang dalam melakukan tindakan kebahasaan. Bahasa
pada dasarnya merupakan sistem yang bersifat arbitrer, manasuka. Artinya,
sejumlah anggota masyarakat tertentu bebas menyepakati bahasanya dengan sistem
lambangnya sendiri tanpa harus sama dengan sistem lambang masyarakat lain yang
maknanyapun tidak harus sama atau dimiliki oleh bahasa lain.
Contoh:
- Pohon
(Indonesia), wit (Jawa), tangkal (Sunda), tree (Inggris)
- Bahasa itu berwujud lambang
Bahasa
diwujudkan dan diwakili oleh lambang dan tanda yang ditentukan berdasarkan
konvensi sosial. Bahasa indonesia bersumber dari bahasa Melayu yang menggunakan
huruf Latin yang menggantikan aksara Jawi dan Pegon. Huruf Latin dalam bahasa
Indonesia mengenal fonem gabungan dua huruf, yaitu ny (nyonya),ng (bangkang), kh (khusus), sy (syukur),
serta diftong dari gabungan dua huruf au (engkau), ai (pandai),
oi (amboi). Penggabungan dua huruf menjadi satu fonem yang seperti itu
belum tentu terdapat dalam bahasa Inggris atau bahasa-bahasa Eropa. Dalam
bahasa Sunda ada vokal eu (peuyeum, baheula)
yang dalam bahasa Indonesia justru tidak ada. Jadi setiap bahasa diwujudkan dan
diwakili oleh lambang atau tanda yang ditentukan oleh kesepakatan atau konvensi
masyarakat bahasa bersangkutan.
Ungkapan lambang tentu sudah sering kita dengar, semisal
ungkapan “merah lambang berani dan putih lambang suci”. Dalam bidang ilmu,
istilah lambang berada dalam kajian semiotika atau semiologi.
Bahasa sebagai lambang, di dalamnya ada tanda, sinyal, gejala, gerak isyarat,
kode, indeks, dan ikon. Lambang sendiri sering disamakan dengan simbol. Dengan
demikian, bahasa sebagai lambang artinya memiliki simbol untuk menyampaikan
pesan kepada lawan tutur. Ia berfungsi untuk menegaskan bahasa yang hendak
disampaikan
Dalam bidang ilmu, istilah lambang berada dalam kajian
semiotika atau semiologi. Lambang sendiri sering disamakan dengan simbol.
Dengan demikian, bahasa sebagai lambang artinya memiliki simbol untuk
menyampaikan pesan kepada lawan tutur. Ia berfungsi untuk menegaskan bahasa
yang hendak disampaikan.
- Bahasa itu adalah bunyi
Kata bunyi berbeda
dengan kata suara. Menurut Kridaklaksana (1983:27) bunyi adalah pesan
dari pusat saraf sebagai akibat dari gendang telinga yang bereaksi karena
perubahan-perubahan dalam tekanan udara. Karena itu, banyak ahli menyatakan
bahwa yang disebut bahasa itu adalah yang sifatnya primer, dapat diucapkan dan
menghasilkan bunyi. Dengan demikian, bahasa tulis adalah bahasa skunder yang
sifatnya berupa rekaman dari bahasa lisan, yang apabila dibacakan/dilafalkan
tetap melahirkan bunyi juga. Sebagai bunyi, bahasa berfungsi untuk menyampaikan
pesan lambang dari kebahasaan sebagaimana disebutkan di atas bahwa bahasa juga bersifat
lambang.
Kata bunyi berbeda dengan kata suara.
Menurut Kridaklaksana (1983:27) bunyi adalah pesan dari pusat saraf
sebagai akibat dari gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan
dalam tekanan udara. Oleh karena itu, banyak
ahli menyatakan bahwa yang disebut bahasa itu adalah yang sifatnya primer,
dapat diucapkan, dan menghasilkan
bunyi. Dengan demikian, bahasa tulis adalah bahasa sekunder yang sifatnya berupa rekaman dari bahasa lisan,
yang apabila dibacakan/dihafalkan tetap melahirkan bunyi juga. Sebagai bunyi,
bahasa berfungsi untuk menyampaikan pesan lambang dari kebahasaan sebagaimana
disebutkan bahwa bahasa juga bersifat lambang.
- Bahasa itu bermakna
Bahasa sebagai suatu hal yang
bermakna erat kaitannya dengan sistem lambang bunyi. Oleh sebab bahasa itu
dilambangkan dengan suatu pengertian, suatu konsep, suatu ide, atau suatu
pikiran, yang hendak disampaikan melalui wujud bunyi tersebut, maka bahasa itu
dapat dikatakan memiliki makna. Lambang bunyi bahasa yang bermakna itu, dalam
bahasa berupa satuan-satuan bahasa yang berwujud morfem, kata, frasa, klausa,
kalimat, dan wacana.
Bahasa sebagai suatu hal yang bermakna dan berkaitan erat dengan sistem lambang bunyi. Oleh sebab itu, makna dilambangkan dengan suatu pengertian, suatu konsep,
sutau ide, atau suatu pikiran, yang hendak disampaikan melalui wujud bunyi
bahasa yang bermakna.
1.
Bahasa itu konvensional.
Bahasa merupakan hasil kesepakatan
bersama. Hal inilah yang kemudian memunculkan aturan-aturan dalam
ketatabahasaan. Konvensional dapat diartikan sebagai satu pandangan atau
anggapan bahwa kata- kata sebagai penanda tidak memiliki hubungan instrinsik
atau inhern dengan objek, tetapi berdasarkan kebiasaan, kesepakatan atau
persetujuan masyarakat yang didahului pembentukan secara arbitrer. Tahapan awal
adalah manasuka/ arbitrer, hasilnya disepakati/ dikonvensikan, sehingga menjadi
konsep yang terbagi bersama (socially shared concept).
Meskipun hubungan antara lambang bunyi
dengan yang dilambangkannya bersifat arbiter, tetapi penerimaan lambang
tersebut untuk suatu konsep tertentu yang bersifat konfensional. Artinya semua
anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konfensi bahwa lambang tertentu itu
digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya. Jadi kalau kearbiteran bahasa
pada hubungan antara lambanag-lamabang bunyi dengan konsep yang
dilambangkannya, maka kekonfensionalan bahasa terletak pada kepatuhan para
penutur bahasa untuk menggunakan lambang itu sesuai dengan konsep yang
dilambangkannya.
1.
Bahasa itu produktif.
Kata produktif
adalah bentuk ajektif dari kata benda produksi. Arti produktif “ banyak
hasilnya” atau lebih tepat “terus menerus menghasilkan” lalu, kalau bahasa itu
dikatakan produktif, maka maksudnya, meskipun unsure-unsur itu terbatas, tapi
dengan unsur-unsur dengan jumlahny ayng terbatas terdapat di luar satuan-satuan
bahasa yang jumlahnya yang tidak terbatas, meski secara relative sesuai dengan
sistem yang berlaku dalam bahasa.
Keproduktifan bahasa Indonesia dapat juga
dilihat pada jmumlah yang dapat dibuat. Dengan kosa kata yang menurut Kamus
Besar Huruf Bahasa Indonesia hanya berjumlah lebih kurang 60.000 buah, kita
dapat membuat kalimat bahasa Indonesia yang mungkin puluhan juta banyaknya,
termasuk juga kalimat-kalimat yang belum pernah ada atau pernah dibuat orang.
Keproduktifan bahasa memang ada batasnya dalam
hal ini dapat dibedakan adanya dua macam keterbatasan, yaitu keterbatasan pada
tingkat parole dan keterbatasan pada tingkat langue. Keterbatasan pada tingkat
parole adalah pada ketidak laziman atau kebelum laziman bentuk-bentuk yang
dihasilkan. Sedangkan pada tingkat langue keproduktifan itu dibatasi karena
kaidah atau sistem yang berlaku.
Bahasa selalu menghasilkan sesuatu. Hal ini dapat dilihat dari
perbandingan antara unsur dan daya pemakaiannya. Bunyi à kata à frasa à klausa à kalimat à paragraf à wacana
- Bahasa itu unik
Bahasa dikatakan memiliki sifat
yang unik karena setiap bahasa memiliki ciri khas sendiri yang dimungkinkan
tidak dimiliki oleh bahasa yang lain. Ciri khas ini menyangkut sistem bunyi,
sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat dan sistem-sistem lainnya.
Di antara keunikan yang dimiliki bahasa bahwa tekanan kata bersifat morfemis,
melainkan sintaksis. Bahasa bersfiat unik berfungsi untuk membedakan antara
bahasa yang satu dengan lainnya.
Bahasa dikatakan memiliki sifat
yang unik karena setiap bahasa memiliki ciri khas sendiri yang dimungkinkan
tidak dimiliki oleh bahasa yang lain. Ciri khas ini menyangkut sistem bunyi,
sistem pembentukan kata. Sistem pembentukan kalimat dan sistem-sistem lainnya.
Di antara keunikan yang dimiliki bahasa adalah adanya tekanan kata yang tidak hanya bersifat morfemis, melainkan sintaksis. Bahasa bersifat
unik berfungsi untuk membedakan antara bahasa yang satu dengan lainnya.
Unik artinya
mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang lain. Lalu,
kalau bahasa dikatakan bersifat unik., maka artinya, setiap bahasa mempunyai
cirri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Ciri khas ini bisa
menyangkut sistem bunyi , sistem pembetukkan kata, sistem pembentukkan kalimat,
atau sistem-sistem lainnya. Salah satu keunikkan bahasa Indonesia adalah bahwa
tekanan kata tidak bersifat morfemis, melainkan sintaksis. Maksudnya, kalau
pada kata tertentu di dalam kalimat kita berikan tekanan, maka makna itu tetap.
Yang berubah adalah makna keseluruhan kalimat.
- Bahasa itu universal
Selain bersifat
unik, yakni mempunyai sifat atau cirri masing-masing, bahasa itu bersifat
universal. Artinya, ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa
yang ada di Dunia ini. Ciri-ciri yang universal ini merupakan unsur bahasa yang
paling umum, yang biasa dikaitkan dengan ciri-ciri atau sifat-sifat bahasa
lain.
Karena bahasa itu berupa ujaran, maka ciri
universal dari bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi
bahasa yang terdiri dari vocal dan konsonan. Tetapi berapa banyak vocal dan
konsonan yang dimiliki oleh setiap bahasa, bukanlah persoalan keuniversalan.
Bukti dari keuniversalan bahasa adalah bahwa setiap bahasa mempunyai
satuan-satuan bahasa yang bermakna, entah satuan yang maknany kata, frase,
klausa, kalimat, dan wacana. Namun, bagaimana satuan-satuan itu terbentuk
mungkin tidak sama. Kalau pembentukan itu bersifat khas, hanya dimiliki sebuah
bahasa maka hal itu merupakan keunikan dari bahasa. Kalau ciri itu dimiliki
oleh sejumlah bahasa dalam satu hukum atau satu golongan bahasa, maka ciri tersebut
menjadi ciri universal dan keunikan rumpun atau sub rumpun bahasa tersebut.
Ada juga yang mengatakan bahwa ciri umum yang
dimiliki oleh bahasa-bahasa yang berada dalam satu rumpun atau sub rumpun, atau
juga dimiliki oleh sebagian besar bahasa-bahasa yang ada di Dunia ini sebagai
ciri setengah universal. Kalau dimiliki oleh semua bahasa yang ada di Dunia ini
beru bisa disebut universal.
Setiap bahasa
juga dimungkinkan memiliki ciri yang sama untuk beberapa kategori. Hal ini bisa
dilihat pada fungsi dan beberapa sifat bahasa. Karena bahasa itu bersifta
ujaran, ciri yang paling umum dimiliki oleh setiap bahasa itu adalah memiliki
vokal dan konsonan. Namun, beberapa vokal dan konsonan pada setiap bahasa tidak
selamanya menjadi persoalan keunikan. Bahasa Indonesia misalnya, memiliki 6
buah vokal dan 22 konsonan, tetapi bahasa Arab memiliki 3 buah vokal pendek, 3
buah vokal panjang, serta 28 konsonan (Al-Khuli, 1982:321). Oleh sifatnya yang
universal ini, bahasa memiliki fungsi yang sangat umum dan menyeluruh dalam
tindakan komunikasi.
Keuniversalan bahasa dapat
dibuktikan dengan adanya sifat dan ciri-ciri sama yang dimiliki oleh
bahasa-bahasa di dunia. Persamaan itu berupa kepemilikan bunyi vokal dan konsonan,
kegramatikalan bahasa, dan kepemilikan fungsi pada kalimat. Oleh sifatnya yang universal ini, bahasa memiliki
fungsi yang sangat umum dan menyeluruh dalam tindakan
komunikasi.
- Bahasa itu dinamis
Bahasa adalah
satu-satunya milik manusia yang tidak perbah lepas dari segala kegiatan dan
gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai makhluk yang berbudaya
dan bermasyarakat tak ada kegiatan manusia yang tidak disertai oleh bahasa.
Malah dalam bermimpi pun manusia menggunakan bahasa.
Karena keterkaitan dan keterikatan bahasa itu
dengan manusia, sedangkan dalam kehidupannya dalam manusia nya kegiatan manusia
tidak tetap dan tidak berubah, maka bahasa itu juda menjadoi ikut berubah,
menjadi tidak tetap, menjadi tidak statis. Karena itulah, bahas itu disebut
dinamis.
Perubahahan yang paling jelas, dan paling
banyak adalah pada bidang leksikon dan semantik. Barang kali, hamper setiap
saat ada kata-kata baru muncul sebagai akibat perubahan dan ilmu, atau ada
kata-kata lama yang muncul dengan makna baru. Hal ini juga dipahami, karen kata
sebagai satuan bahasa terkecil, adalah sarana atau wadah untuk menampung suatu
konsep yang ada dalam masyarakat bahasa. Dengan terjadinya perkembangan
kebuidayaan, perkembang ilmu dan tekhnologi, tentu bermunculan konsep-konsep
baru, yang tentunya disertai wadah penampungnya, yaitu kata-kata atau
istilah-istilah baru.
Perubahan dalam bahasa ini dapat juga bukan
terjadi berupa pengembangan dan perluasan, melainkan berupa kemunduran sejalan
dengan perubahan yang dialami masyarakat bahasa yang bersangkutan. Berbagaio
laasan sosial dan politik menyebabkan orang meninggalkan bahasanya, atau tidak
lagi menggunakan bahasanya, lalu menggunakan bahasa lain. Di Indonesia,
kabarnya telah banyak bahasa daerah yang telah ditinggalkan para penuturnya
terutaam dengan alasan sosial. Jika ini terjadi terus menurus, maka pada suatu
saat kelak banyak bahasa yang hanya ada beradadalam dokumentasi belaka, karena
tidak ada lagi penuturnya.
Hampir di setiap tindakan
manusia selalu menggunakan bahasa. Bahkan, dalam bermimpi pun, manusia
menggunakan bahasa. Karena setiap tindakan manusia sering berubah-ubah seiring
perubahan zaman yang diikuti oleh perubahan pola pikir manusia, bahasa yang
digunakan pun kerap memiliki perubahan. Inilah yang dimaksud dengan dinamis.
Dengan kata lain, bahasa tidak statis, tetapi akan terus berubah mengikuti
kebutuhan dan tuntutan pemakai bahasa.
Hampir di setiap tindakan manusia selalu menggunakan bahasa. Akibat setiap tindakan manusia sering berubah-ubah seiring perubahan zaman yang diikuti oleh perubahan pola pikir
manusia, bahasa yang digunakan pun sering
memiliki perubahan. Inilah yang dimaksud dengan dinamis. Dengan kata lain,
bahasa tidak statis, tetapi akan terus berubah mengikuti kebutuhan dan tuntutan
pemakai bahasa.
- Bahasa itu bervariasi
Setiap masyarakat bahasa pasti
memiliki variasi atau ragam dalam bertutur. Bahasa Aceh misalnya, antara
penutur bahasa Aceh bagi masyarakat Aceh Barat dengan masyarakat Aceh di Aceh
Utara memiliki variasi. Variasi bahasa dapat terjadi secara idiolek, dialek,
kronolek, sosiolek, dan fungsiolek.
Setiap masyarakat bahasa pasti
memiliki variasi atau ragam dalam bertutur. Variasi bahasa dapat terjadi secara
idiolek, dialek, kronolek, sosiolek, dan fungsional.
Setiap bahasa
digunakan oleh sekelompok orang yang termasuk dalam suatu masyarakat bahasa.
Yang termasuk dalam masyarakat bahsa adalah mereka merasa menggunakan bahasa
yang sama. Jadi, kalau disebut masyarakat bahasa Indonesia adalah semua orang
yang merasa memiliki dan menggunakan bahasa Indonesia.
Anggota masyarakat suatu bahasa biasanya
terdiri dari ber bagai orang dengan berbagai status sosial dan berbagai latar
belakang budaya yang tidak sama. Oleh karena itu, karena latar belakang dan
lingkungannya yang tidak sama, maka bahasa yang mereka gunakan menjadi
bervariasi atau beragam, dimana antara variasi atau ragam yang satu dengan yang
lain sering kali mempunyai perbedaan yang besar.
Mengenai variasi bahasa ini ada tiga istilah
yang perlu diketahui, yaitu idiolek, dialek, dan ragam. Idiolek adalah variasi
atau ragam bahasa yang bersifat perseorangan. Setiap orang tentu mempunyai ciri
khas bahasanya masing-masing. Kalau kita banyak membaca karangan orang yang
banyak menulis, misalnya, Hamka, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamingway, atau Mark
twain , maka kita akan dapat mengenali ciri khas atau idiolek
pengarang-pengarang itu.
Dialek adalah variasi bahasa yang di gunakan
oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu. Variasi
bahasa berdasarkan tempat ini lazim disebut dengan nama dialek regional ,
dialek area, atau dialek geografi. Sedangkan variasi bahasa yang digunakan
sekelompok anggota masyarakat dengan status sosial tertentu disebut dialek
sosial atau sosiolek.
Ragam atau ragam bahasa adalah variasi bahasa
yang digunakan dalam situasi, keadaan, atau untuk keperluan tertentu. Untuk
situasi formal digunakan ragam bahasa yang disebut ragam baku atau ragam
standar, untuk situasi yang tidak formal digunakan ragam yang tidak baku atau
ragam nonstandar. Dari sarana yang digunakan dapat dibedakan adanya ragam lisan
dan ragam tulisan. Untuk keperluan pemakaiannya dapat dibedakan adanya ragam
bahasa ilmiah, ragam bahasa jujrnalistik, ragam bahasa sastra, ragam bahasa
militer, dan ragam bahasa hukum.
- Bahasa itu manusiawi
Bahasa yang manusiawi adalah
bahasa yang lahir alami oleh manusia penutur bahasa dimaksud. Hal ini karena
pada binatang belum tentu ada bahasa meskipun binatang dapat berkomunikasi.
Sifat ini memiliki fungsi sebagai citra bahasa adalah sangat baik dalam
komunikasi.
Bahasa yang manusiawi adalah
bahasa yang lahir alami oleh manusia sebagai penutur
bahasa dimaksud. Hal ini dikarenakan pada binatang belum tentu ada bahasa meskipun binatang
dapat berkomunikasi.
Kalau kita
menyimak kembali cirri-ciri bahasa, yang sudah dibicarakan dimuka, bahwa bahasa
itu adalah sistem lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia,
bersifat arbitrer, bermakna, dan produktif, maka dapat dikatakan bahwa binatang
tidak mempunyai bahasa. Bahwa binatang dapat berkomunikasi dengan sesama
jenisnya, bahkan juga dengan manusia, adalah memang suatu kenyataan. Namun,
alat komunikasinya tidaiklah sama dengan alat komunikasi manusia, yaitu bahasa.
Dari penelitian para pakar terhadap alat
komunikasi binatang bisa disimpulkan bahwa satu-satuan komunikasi yang dimiliki
binatang-binatang itu bersifat tetap.sebetulnya yang membuat alat komunikasi
manusia itu, yaitu bahasa, produktif dan dinamis, dalam arti dapat dipakai
untuk menyatakan sesuatu yang baru, berbeda dengan alat komunikasi binatang,
yang hanya itu-itu saja dan statis , tidak dapat dipakai untuk menyatakan
sesuatu yang baru, bukanlah terletak pada bahasa itu dan alat komunikasi
binatang itu, melainkan pada perbedaan besar hakikat manusia dan hakikat binatang.
Manusia sering disebut-sebut sebagai homosapiens makhluk yang berpikir,
homososio makhluk yang bermasyarakat, homofabel makhluk pencipta alat-alat dan
juga animalrasionale makhluk rasional yang beerakal budi. Maka dengan segala
macam kelebihannya itu jelas manusia dapat memikirkan apa saja yang lalu, yang
kini, dan yang masih akan datang, serta menyampaikannya kepada orang lain
melalui alat komunikasinya, yaitu bahasa. Oleh karena itu bisa disimpulkan
bahwa alat komunikasi manusia yang namanya bahasa, adalah bersifat manusiawi,
dalam arti hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia.
- Bahasa sebagai alat interakasi sosial
Bahasa sebagai alat interaksi
sosial sangat jelas fungsinya, yakni dalam interaksi, manusia memang tidak
dapat terlepas dari bahasa. Seperti dijelaskan di atas, hampir di setiap
tindakan manusia tidak terlepas dari bahasa, maka salah satu hakekat bahasa
adalah alat komunikasi dalam bergaul sehari-hari.
- Bahasa sebagai identitas diri
Bahasa juga dapat menjadi
identitas diri pengguna bahasa tersebut. Hal ini disebabkan bahasa juga menjadi
cerminan dari sikap seseorang dalam berinteraksi. Sebagai identitas diri,
bahasa akan menjadi penunjuk karakter pemakai bahasa tersebut.
Sementara itu, Brown dan Yule
(1996:1) berpendapat bahwa bahasa itu dapat berfungsi sebagai pengungkapan isi
yang dideskripsikan menjadi fungsi transaksisional dan sebagai
pengungkapan hubungan sosial dan sikap-sikap pribadi yang dideskripsikannya
menjadi fungsi interaksional.
DAFTAR
PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2006. Tata Bahasa Praktis Bahasa
Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Hambali. 2008. Linguistik Umum. Makassar:
Universitas Muhammadiyah Makassar.
Simatupang, Maurits, dkk. 1979. Bahasa dan Sastra.
Jakarta: Depdikbud.
Wardihan. P,
Andi. 2009.Pengantar Linguistik. Makassar: Universitas Negeri
Makassar
Alieva, N.F. dkk. 1991. Bahasa Indonesia: Deskripsi dan
Teori. Yogyakarta: Kanisius
Chaer, Abdul. 2003.
Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta
No comments:
Post a Comment