Monday, 21 December 2015

IDEALISME OBJEKTIF

IDEALISME OBJEKTIF

Fichte (1762-1814)
Johann Gottlieb adalah filosof Jerman. Ia belajar teologi di Jena pada tahun 1780-1788. menurut Fichte, dasar realitas adalah kemauan; kemauan inilah thing-in itself-nya manusia. Penampakan, menurut pendapatnya adalah suatu yang ditanam oleh Roh absolut sebagai penampakan kemauannya. Roh Absolut adalah sesuatu yang ada di belakang kita; itu adalah Tuhan pada Spinoza.
            Filsafat menurut Fichte haruslah dideduksi dari satu prinsip. Ini sudah mencukupi untuk memenuhi tuntunan pemikiran, moral, bahkan seluruh kebutuhan manusia. Prinsip yang dimaksud ada di dalam etika: Bukan teori, melainkan prakteklah yang menjadi pusat yang di sekitarnya kehidupan diatur. Unsur esensial dalam pengalaman adalah tindakan, bukan fakta.
            Menurut Fichte, dasar kepribadian adalah kemauan; bukan kemauan irasional seperti pada Schopenhauer, melainkan kemauan yang dikontrol oleh kesadaran bahwa kebebasan diperoleh hanya dengan melalui kepatuhan kepada peraturan. Kehidupan moral adalah kehidupan usaha. Manusia dihadapkan kepada rintangan-rintangan, dan menusia digerakkan oleh rasa wajib bahwa ia berutang kepada aturan moral umum yang memungkinkannya mampu memilih yang baik. Idealisme etis Fichte diringkaskan dalam pernyataan bahwa dunia aktual hanya dapat dipahami sebagai bahan bagi tugas-tugas kita. Oleh karena itu, filsafat bagi Fichte adalah filsafat hidup yang terletak pada pemilihan antara moral idealisme dan moral materialisme. Substansi meterialisme menurut Fichte ialah naluri, kenikmatan tak bertanggung jawab, bergantung pada keadaan, sedangkan idealisme adalah kehidupan yang bergantung pada diri sendiri.
            Bagi seorang idealis, hukum moral ialah setiap tindakan harus berupa langkah menuju kesempurnaan spiritual. Itu hanya dapat dicapai dalam masyarakat yang anggota-anggotanya adalah pribadi yang bebas merealisasi diri mereka dalam kerja untuk masyarakat. Pada tingkat yang lebih tinggi, keimanan dan harapan manusia muncul dalam kasih Tuhan.

Schelling (1775-1854)
Friedrich Wilhelm Joseph Schelling sudah mencapai kematangan sebagai filosof pada waktu ia masih amat muda. Pada tahun 1798, ketika usianya baru 23 tahun, ia telah menjadi guru besar di Universitas Jena. Sampai akhir hidupnya pemikirannya selalu berkembang. Dia ialah filosof idealis Jerman yang telah meletakkan dasar-dasar pemikiran bagi perkembangan idealisme Hegal. Schelling adalah idealis Jerman yang terbesar. Pemikirannya pun merupakan mata rantai antara Fichte dan Hegel.
Schelling mula-mula berusaha menggambarkan jalan yang dilalui intelek dalam proses mengetahui, semacam epistemologi. Dalam pandangan Schelling, realitas adalah identik dengan gerakan pemikiran yang berevolusi secara identik. Akan tetapi, ai berbeda dalam berbagai hal dengan Hegel. Pada Schelling, juga pada Hegel, realitas adalah proses rasional revolusi dunia menuju realisasinya berupa suatu ekspresi kebenaran terakhir. Kita dapat mengetahui dunia secara sempurna dengan cara melacak proses logis perubahan sifat dan sejarah masa lalu. Tujuan proses itu adalah suatu keadaan kesadaran diri yang sempurna. Schelling menyebut proses ini identitas absolut, Hegel menyebutnya ideal.
Filsafat Schelling berkembang malalui lima tahap:
  1. Idealisme subjektif
Pada tahap ini ia mengikuti pemikiran Fichte.
  1. Filsafat alam
Pada tahap ini ia menerapkan prinsip atraksi dan repulsi dalam berbagai problem filsafat dan sains. Alam dilihatnya sebagai vitalistis, self-creative, dan dimotovasi oleh suatu proses dialektis.

  1. Idealisme transendental atau idealisme objektif
Filsafat alam dilengkapi oleh suatu kesadaran absolut yang perkembangannya merupakan wahyu Absolut dalam sejarah. Filsafatnya tentang seni memperlihatkan pendapatnya itu. Ia menyatakan bahwa seni merupakan kesatuan antara subjek dan objek. Roh dan alam. Tragedi dipandang sebagai tubrukan antara keharusan dengan kebebasan, didamaikan oleh kesediaan menerima hukuman secara jantan. Hukuman itu memperlihatkan kesediaan kita menerima realitas dan idealitas.
  1. Filsafat identitas
Yang Absolut itu pada tahap ini menjadi lebih penting kedudukannya, dipandang sebagai identitas semua individu isi alam.
  1. filsafat positif
Pada tahap terakhir ini pemikirannya menekankan nilai mitologi dan mengakui perbedaan yang jelas anrata Tuhan dan alam semesta. Pada tahap ini ia mengikuti sebagian pemikiran Jacob Boehme dan neo-Platonisme.


Hegel (1770-1831)
            Filosof Amerika, M.R. Cohen menyebut Hegel sebagai filosof terbesar abad ke-19. Masalah pokok yang hendak dicari Hegel jawabannya muncul dari suasana perpecahan keyakinan Kristen dan penuhanan akal sebagaimana muncul dalam Revolusi Prancis 1789. ini adalah masalah nasib manusia, masalah kebermaknaan eksistensi manusia. Hegel berusaha membuat jawaban dengan menggunakan istilah-istilah sekular. Hegel menghubungi nenek-moyangnya, orang Yunani, untuk meminta pertolongan mencari jawaban atas persoalan dasar itu.
Pusat filsafat Hegel adalah kosep Geist (roh, spirit), suatu istilah yang diilhami oleh agamanya. Istilah ini agak sulit dipahami. Roh dalam pandangan Hegel adalah sesuatu yang real, kongkret, kekuatan yang objektif, menjelma dalam berbagai bentuk sebagai world of spirit (Dunia Roh), yag menempat kedalamobjek-objek khusus. Di dalam kesadaran diri, roh itu merupakan esensi manusia dan juga esensi sejarah manusia.
            Bagian metafisikanya ini dimulai dari pembahasan tentang rasio. Bertens (1979:68) menjelaskan bahwa Hegel mementingkan rasio. Tentu daja karena dia seorang idealis. Yang dimaksud olehnya bukan saja rasio pada manusia perseorangan, tetapi terutama rasio pada subjek absolut karena Hegel juga menerima prinsip idealistik bahwa realitas seluruhnya harus disetarafkan dengan suatu subjek. Dalil Hegel yang kemudian terkenal berbunyi: “Semua yang real bersifat rasional dan semua yang rasional bersifat real”. Maksudnya, luasnya rasio sama dengan luasnya realitas. Realitas seluruhnya adalah proses pemikiran (idea, menurut istilah Hegel) yang memikirkan dirinya sendiri. Atau dengan perkataan Hegel yang lain, realitas seluruhnya adalah Roh yang lambat-laun menjadi sadar akan dirinya. Dengan mementingkan rasio, Hegel sengaja beraksi terhadap kecenderungan intelektual ketika itu yang mencurigai rasio sambil mengutamakan perasaan.










KRITICISME

Imanuel Kant (1724-1804)
            Kant lahir di Konigsberg, Prusia, pada tahun 1724. pada tahun 1755 Kant memulai karirnya sebagai dosen swasta di Universitas Konigsbreg. Kemudian ia meninggalkan kedudukan itu setelah lima belas tahun. Pada tahun 1770 ia diangkat menjadi profesor logika dan metefisika. Setelah beberapa tahun berpengalaman sebagai pengajar, ia menuls buku tentang pendidikan. Buku ini, konon berisi pendapat-pendapat yang istimewa, tetapi ia tidak banyak menerapkan pendapat-pendapatnya itu. Salah satu prinsip yang dianutnya dan diterapkannya adalah perlunya mahasiswa yang berprestasi sedangan di tolong. Menurut pendapatnya, mahasiswa yang bodoh tidak perlu dibantu, yang jenius tidak memerlukan bantuan; yang sedangan itulah yang perlu dibantu. Ia sering mengunjungi mahasiswa sedangan tersebut.
            Tidak ada orang yang mengira pada waktu itu ia akan membuat kejutan yang hebat terhadap dunia pemikiran dengan mengeluarkan buku yang berisi suatu sistem metafisika yang baru. Dia pun memang tidak bermaksud membuat kejutan itu.

The Critique of Pure Reason (Pembahasan tentang Akal Murni)
            Menurut Kant, pengetahuan yang mutlak benarnya memang tidak akan ada bila seluruh pengetahuan datang melalui indera. Akan tetapi, bila pengetahuan itu datang dari luar melalui akal murni, yang tidak bergantung pada pengalaman, bahkan tidak bergantung pada indera, yang kebenarannya a priori, apakah ia juga tidak pasti kebenarannya? Tidak mungkinkah dari sini muncul kebenaran yang mutlak, yang dapat dipegang? Apakah tidak ada teori sains yang kuat seperti ini? Pertanyaannya mesti mundur lebih dulu: Apakah memang ada pengetahuan yang absolut itu, yang mempunyai dasar a priori itu? Ada, kata Kant.
            Kant memulainya dengan mempertanyakan apakah ada yang dapat kita ketahui seandainya seluruh benda dan indera dibuang. Seandainya tidak ada benda dan tidak ada alat pengindera, apakah ada sesuatu yang dapat kita ketahui? Di sini buku Critique pertama membahas secara rinci cara manusia berpikir, tentang asal-usul terbentuknya konsep, tentang struktur jiwa yang inheren tadi. Ini, menurut Kant, adalah masalah-masalah metafisika yang besar. Pada dasarnya, dalam bukuini Kant ingin membuat pembahasan yang lengkap dan tuntas tentang itu karena ia melihat hal ini merupakan kunci setiap masalah metafisika. Menurut hemat saya itu benar, untuk metafisika akal murni.
            Di sini Kant mulai memperlihatkan apa yang diperjuangkannya: kebenaran umum harus bebas dari pengalaman, harus jelas dan pasti dengan sendirinya (Durant, 1965:266). Meksudnya, pengetahuan yang umum, itu tetap benar, tidak peduli apa pengalaman kita tentangnya kemudian. Kebenaran umum itu bahkan benar sekalipun dialami. Inilah kebenaran yang a priori.
            Seberapa jauh kita dapat membebaskan diri dari pengalaman? Dengan perkataan lain, berapa banyak pengetahuan yang dapat kita peroleh bila tidak melalui pengalaman? Inilah persoalan selanjutnya. Kata Kant, yang sudah jelas adalah pengetahuan metafisika. Pengetahuan ini dapat diperoleh tidak melalui pengalaman, bebas dari pengalaman. Pengetahuan matematika itu niscaya dan pasti. Kita tidak dapat membayangkan bahwa pengalaman akan menolak kebenarannya. Kita bisa saja memperkirakan matahari terbit dari barat besok atau satu miliar tahun yang akan datang, mungkin saja hal itu, atau suatu ketika api tidak membakar, itu pun mungkin saja. Akan tetapi, kita tidak dapat membayangkan bahwa suatu ketika jumlah sudut segitiga buka 180 derajat. Kebenaran yang teakhir ini, dan yang sejenis dengan ini, selalu benar sekalipun belum atau bahkan tidak dialami. Kebenarannya tidak bergantung pada pengalaman masa lalu, sekarang, atau akan datang. Kebenaran matematika itu absolut dan niscaya, tidak dapat dibayangkan suatu ketika tidak benar. Itulah salah satu contoh kebenaran a priori.

The Critique of Practical Reason (Pembahasan tentang Akal Praktis)
            Pembahasan tentang Kant memang lebih luas diberikan dalam buku ini dibandingkan dengan tokoh lain. Soalnya ialah, filsafat Kant memang menempati tempat yang khusus dalam sistem yang dikembangkan dalam buku ini. Uraian yang singkat tentang ini ialah sebagai berikut.
Kehidupan memerlukan kebenaran. Kebenaran tidak dapat seluruhnya diperoleh dengan indera dan akal. Indera dan akal itu terbatas kemampuannya. Ada kebenaran yang diperlukan, dan hanya mungkin diperoleh denga hati atau iman. Sampai sekarang masih banyak orang yang beranggapan bahwa semua kebenaran dapat diperoleh dengan indera dan akal, denga metode sains dan filsafat. Dalam hal inilah pentingnya Kant dalam sistem yang dianjurkan ini. Kant menjelaskan bahwa sains terbatas. Bila ia memasuki daerah noumena, ia akan sesat dalam antimomi. Filsafat pun terbatas. Bila ia memasuki daerah noumena, ia akan tersesat dalam paralogisme. Daerah noumena itu hanya mungkin dimasuki oleh akal praktis. Dengan demikian, jelaslah bahwa sistem Kant ini amat penting posisinya dalam sistem yang dikembangkan dalam buku ini. Sekali lagi, itulah sebabnya filsafat Kant dibahas lebih luas dibanding beberapa tokoh lain.
Dalam bukunya, kesimpulannya ialah indera mengetahui penampakan; ia dapat dipegang apabila dasar-dasarnya a priori. Menurut Kant, dasar a priori itu ada apda sains itu. Akan tetapi, indera (sains) terbatas. Akal atau filsafat lebih canggih ketimbang sains karena dapat mencapai konsepsi. Akan tetapi, akal juga terbatas.
Kant bertanya: Bila sains dan akal tidak dapat diandalkan dalam mempelajari agama, maka apa selanjutnya? (Durant, 1959:275). Kata Kant: Moral. Nah, tentang moral inilah pada dasarnya isi buku Critique kedua ini.
Apa moral itu? Moral adalah kata hati, suatu hati, perasaan, suatu prinsip yang a priori, absolut. Ia merupakan suatu realitas yang amat mengherankan dalam diri manusia, perasaan yang tidak dapat dielakkan, menentukan ini benar atau salah. Kita boleh saja mengadakan tawar-menawar, tetapi perasaan itu tetap saja pada posisinya: menentukan. Cobalah perhatikan, pagi hari kita telah menetapkan suatu rencana penyelesaian, sore hari ternyata kita menghadapi pilihan, dan membuat penyelesaian yang lain. Kata hati itu memberi perintah; itulah yang menyebabkan kita mengadakan pemilihan kembali. Kata hati itu suatu categorical imperative, perintah tanpa syarat yang ada di dalam kesadaran kita (Durant, 1959:276). Kata hati itu memerintah. Perintah itu ialah perintah untuk berbuat sesuai dengan keinginan universal, yaitu suatu hukum kewajaran. Apa itu? Hukum kewajaran itu ialah hukum universal. Kita mengetahuinya bukan karena memikirkannya, melainkan dengan perasaan tiba-tiba; tiba-tiba kita merasakan bahwa kita harus menghindari perbuatan yang bila dilakukan oleh semua orang akan mengakibatkan kehidupan masyarakat menjadi tidak mungkin. Apakah saya akan menghindarkan diri dari hukuman karena bohong? Padahal, tatkala saya akan berbohong, bahkan sebelumnya, saya tahu bahwa hukum universal mengatakan bahwa berbohong itu jahat. Ada kesadaran dalam saya, saya tidak boleh berbohong sekalipun menghasilkan keuntungan bagi saya, atau bagi orang lain. Moral yang kita miliki itu absolut.













No comments:

Post a Comment