Tuesday, 22 December 2015

Sistem Ekonomi

Sistem Ekonomi

"Sosialisme" adalah sebuah istilah untuk sistem ekonomi dimana bagian yang lebih besar dari produksi dan pertukaran dimiliki atau dikuasai oleh sektor publik, yaitu oleh negara atau oleh rakyat. Motif utama produksi dalam sistem sosialis adalah manfaat bersama (social use).

"Kapitalisme" adalah istilah untuk sistem ekonomi dimana bagian yang lebih besar dari produksi dan pertukaran dimiliki oleh kaum kapitalis (kadangkala disebut "borjuis"), yang merupakan pemilik, partner bisnis, atau pemegang saham perusahaan. Dalam sistem ini, bagian yang lebih besar dari produksi dan pertukaran, karenanya, dimiliki oleh sektor swasta. Namun, hal ini berarti produksi dan pertukaran menjadi produktif berkat para buruh yang tidak mempunyai cukup modal (langka) untuk mempekerjakan diri mereka sendiri, dan oleh karenanya siapa saja dipaksa untuk menjual kekuatan kerja mereka (kekuatan fisik dan mental) terhadap kapitalis. Keputusan-keputusan produksi berada di tangan kapitalis. Tujuan utama produksi dalam sistem kapitalis adalah pencapaian keuntungan untuk kaum kapitalis.


Monday, 21 December 2015

LINGUISTIK (MAKALAH)

Hakikat Bahasa
Hakikat bahasa menurut Harimurti Kridalaksana dalam Kamus Linguistik edisi ketiga adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Sementara menurut H. Douglas Brown dalam bukunya Henry Guntur Tarigan “Pengajaran Pragmatik” menyebutkan hakikat bahasa sebagai suatu sistem yang sistematis, barangkali juga untuk sistem generatif; seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol arbitrer. Abdul Chaer dan Leonie Agustina menyebutkan hakikat bahasa dalam buku “Pragmatik: Perkenalan Awal” yaitu sebuah sistem, artinya, bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan.
Sapir (1921) dalam A. Chaedar Alwasilah (1990) bahwa bahasa adalah “A purely human and non-instinctive method of communicating ideas, emotions, and desires, by means of a system of voluntarily produced symbols.” Di samping itu, A. S. Hornby (1996) dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary, menyatakan bahasa adalah sistem bunyi dan kata yang digunakan manusia untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya.

Hakikat bahasa adalah suatu konsep yang mendasar tentang bahasa. Hakikat bahasa ini antara lain:
Bahasa sebagai sistem.
1.      Kata sistem dalam keilmuan dapat dipahami sebagai susunan yang teratur, berpola, membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa bahasa memiliki sifat yang teratur, berpola, memiliki makna dan fungsi. Sistematis diartikan pula bahwa bahasa itu tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun acak. Karenanya, sebagai sebuah sitem, bahasa juga sistemik. Sistematik atau sistematis maksudnya bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi juga terdiri atas sub-subsistem atau sistem bawahan. Di sini dapat disebutkan subsistem-subsistem itu antara lain; subsistem fonologi, subsistem morfologi, subsistem sintaksis, subsistem semantik. Maka, sebagai sebuah sistem, bahasa berfungsi untuk memilah kajian morfologi, fonologi, sintaksi, dan semantik.
Sebagai sebuah sistem, bahasa memiliki konsep sistematis dan sistemik. Sistematis dapat diartikan bahwa bahasa itu tersusun menurut suatu pola yang selalu berkaitan, tidak tersusun acak. Selain sistematis, bahasa juga sistemik. Sistemik maksudnya bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi juga terdiri atas sub-sub sistem atau sistem bawahan. Subsistem-subsistem itu antara lain: subsistem fonologi, subsistem morfologi, subsistem sintaksis, subsistem semantik. Dengan demikian, sebagai sebuah sistem, bahasa berfungsi untuk memilah kajian morfologi, fonologi, sintaksi, dan semantik.
            Sebagaia sebuah system, bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Dengan sistematis Artinya bahasa itu tersusun menurut suatu pola tidak tersusun secara acak, secara sembarangan, sedangkan sistemis artinya bahasa itu bukan merupakan system tunggal tatapi terdiri juga dari sub-subsistem atau system bawahan. Disini dapat disebutkan antara lain, subsistem fonologi, subsistem morfologi, dan subsistem sintaksis, dan subsistem semantic. Bandingkanlah dengan sebuah sepeda yang terdiri juga dari subsistem kemudi, subsistem pedal, dan subsistem roda. Tiap unsure dalam setiap subsistem juga tersusun menurut aturan atau pola tertentu, yang secara keseluruhan membentuk stua system. Jika tidak tersusun menurut atuaran atau pola tertentu maka subsistem itupun tidak berfungsi.
Bahasa sebagai salah satu unsur penting dalam berkomunikasi antar anggota masyarakat, mengsyaratkan adanya interaksi dan tindak yang saling memahami, sehingga terjalin situasi komunikasi yang baik. Adanya ketidakpahaman atas unsur bahasa ketika melakukan tindak komunikasi akan menciptakan kesalah pahaman. Oleh karena itu, bahasa harus mengandung keteraturan dalam sebuah sistem yang memungkinkan setiap anggota masyarakat dapat memahaminya. Jadi, bahasa sebagai sebuah sistem terdiri atas sejumlah unsur yang teratur yang dapat dipahami oleh masyarakat pemakainya.
Contoh:
- akngan kasam
- nangka masak
Bahasa sebagai satuan yang sistemis terdiri atas subsistem fonologi, gramatika, dan leksikon. Fonologi adalah ilmu yang mempelajari bunyi bahasa. Adanya perbedaan bunyi dalam pengucapan satu kata, misalnya, akan menghasilkan makna yang berbeda atas satuan bahasa itu.
Perhatikan contoh berikut:
- batak-botak-batuk-batik-butik-butek
  1. Bahasa itu arbitrer
Kata arbitrer mengandung arti manasuka. Tetapi istilah arbitrer disini adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut (Chaer 1994:45). Yang dimaksud dengan arbitrer adalah tidak adanya hubungan langsung yang bersifat wajib antara lambang dengan yang dilambangkannya. Dengan kata lain, hubungan antara bahasa dan wujud bendanya hanya didasarkan pada kesepakatan antara penurut bahasa di dalam masyarakat bahasa yang bersangkutan. Misalnya, lambang bahasa yang berwujud bunyi kuda dengan rujukannya yaitu seekor binatang berkaki empat yang biasa dikendarai, tidak ada hubungannya sama sekali, tidak ada ciri alamiahnya sedikit pun.
Arbitrer dapat diartikan ‘sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka’. Arbitrer diartikan pula dengan tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut. Hal ini berfungsi untuk memudahkan orang dalam melakukan tindakan kebahasaan.
Arbitrer dapat diartikan sewenag-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka. Arbitrer diartikan pula dengan tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut. Hal ini berfungsi untuk memudahkan orang dalam melakukan tindakan kebahasaan. Bahasa pada dasarnya merupakan sistem yang bersifat arbitrer, manasuka. Artinya, sejumlah anggota masyarakat tertentu bebas menyepakati bahasanya dengan sistem lambangnya sendiri tanpa harus sama dengan sistem lambang masyarakat lain yang maknanyapun tidak harus sama atau dimiliki oleh bahasa lain.
Contoh:
- Pohon (Indonesia), wit (Jawa), tangkal (Sunda), tree (Inggris)

  1. Bahasa itu berwujud lambang
Bahasa diwujudkan dan diwakili oleh lambang dan tanda yang ditentukan berdasarkan konvensi sosial. Bahasa indonesia bersumber dari bahasa Melayu yang menggunakan huruf Latin yang menggantikan aksara Jawi dan Pegon. Huruf Latin dalam bahasa Indonesia mengenal fonem gabungan dua huruf, yaitu ny (nyonya),ng (bangkang), kh (khusus), sy (syukur), serta diftong dari gabungan dua huruf au (engkau), ai (pandai), oi (amboi). Penggabungan dua huruf menjadi satu fonem yang seperti itu belum tentu terdapat dalam bahasa Inggris atau bahasa-bahasa Eropa. Dalam bahasa Sunda ada vokal eu (peuyeum, baheula) yang dalam bahasa Indonesia justru tidak ada. Jadi setiap bahasa diwujudkan dan diwakili oleh lambang atau tanda yang ditentukan oleh kesepakatan atau konvensi masyarakat bahasa bersangkutan.

Ungkapan lambang tentu sudah sering kita dengar, semisal ungkapan “merah lambang berani dan putih lambang suci”. Dalam bidang ilmu, istilah lambang berada dalam kajian semiotika atau semiologi. Bahasa sebagai lambang, di dalamnya ada tanda, sinyal, gejala, gerak isyarat, kode, indeks, dan ikon. Lambang sendiri sering disamakan dengan simbol. Dengan demikian, bahasa sebagai lambang artinya memiliki simbol untuk menyampaikan pesan kepada lawan tutur. Ia berfungsi untuk menegaskan bahasa yang hendak disampaikan
Dalam bidang ilmu, istilah lambang berada dalam kajian semiotika atau semiologi. Lambang sendiri sering disamakan dengan simbol. Dengan demikian, bahasa sebagai lambang artinya memiliki simbol untuk menyampaikan pesan kepada lawan tutur. Ia berfungsi untuk menegaskan bahasa yang hendak disampaikan.

  1. Bahasa itu adalah bunyi
Kata bunyi berbeda dengan kata suara. Menurut Kridaklaksana (1983:27) bunyi adalah pesan dari pusat saraf sebagai akibat dari gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara. Karena itu, banyak ahli menyatakan bahwa yang disebut bahasa itu adalah yang sifatnya primer, dapat diucapkan dan menghasilkan bunyi. Dengan demikian, bahasa tulis adalah bahasa skunder yang sifatnya berupa rekaman dari bahasa lisan, yang apabila dibacakan/dilafalkan tetap melahirkan bunyi juga. Sebagai bunyi, bahasa berfungsi untuk menyampaikan pesan lambang dari kebahasaan sebagaimana disebutkan di atas bahwa bahasa juga bersifat lambang.
Kata bunyi berbeda dengan kata suara. Menurut Kridaklaksana (1983:27) bunyi adalah pesan dari pusat saraf sebagai akibat dari gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara. Oleh karena itu, banyak ahli menyatakan bahwa yang disebut bahasa itu adalah yang sifatnya primer, dapat diucapkan, dan menghasilkan bunyi. Dengan demikian, bahasa tulis adalah bahasa sekunder yang sifatnya berupa rekaman dari bahasa lisan, yang apabila dibacakan/dihafalkan tetap melahirkan bunyi juga. Sebagai bunyi, bahasa berfungsi untuk menyampaikan pesan lambang dari kebahasaan sebagaimana disebutkan bahwa bahasa juga bersifat lambang.

  1. Bahasa itu bermakna
Bahasa sebagai suatu hal yang bermakna erat kaitannya dengan sistem lambang bunyi. Oleh sebab bahasa itu dilambangkan dengan suatu pengertian, suatu konsep, suatu ide, atau suatu pikiran, yang hendak disampaikan melalui wujud bunyi tersebut, maka bahasa itu dapat dikatakan memiliki makna. Lambang bunyi bahasa yang bermakna itu, dalam bahasa berupa satuan-satuan bahasa yang berwujud morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana.
Bahasa sebagai suatu hal yang bermakna dan berkaitan erat dengan sistem lambang bunyi. Oleh sebab itu, makna dilambangkan dengan suatu pengertian, suatu konsep, sutau ide, atau suatu pikiran, yang hendak disampaikan melalui wujud bunyi bahasa yang bermakna.

1.      Bahasa itu konvensional.
Bahasa merupakan hasil kesepakatan bersama. Hal inilah yang kemudian memunculkan aturan-aturan dalam ketatabahasaan. Konvensional dapat diartikan sebagai satu pandangan atau anggapan bahwa kata- kata sebagai penanda tidak memiliki hubungan instrinsik atau inhern dengan objek, tetapi berdasarkan kebiasaan, kesepakatan atau persetujuan masyarakat yang didahului pembentukan secara arbitrer. Tahapan awal adalah manasuka/ arbitrer, hasilnya disepakati/ dikonvensikan, sehingga menjadi konsep yang terbagi bersama (socially shared concept).
Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbiter, tetapi penerimaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu yang bersifat konfensional. Artinya semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konfensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya. Jadi kalau kearbiteran bahasa pada hubungan antara lambanag-lamabang bunyi dengan konsep yang dilambangkannya, maka kekonfensionalan bahasa terletak pada kepatuhan para penutur bahasa untuk menggunakan lambang itu sesuai dengan konsep yang dilambangkannya.



1.      Bahasa itu produktif.
Kata produktif adalah bentuk ajektif dari kata benda produksi. Arti produktif “ banyak hasilnya” atau lebih tepat “terus menerus menghasilkan” lalu, kalau bahasa itu dikatakan produktif, maka maksudnya, meskipun unsure-unsur itu terbatas, tapi dengan unsur-unsur dengan jumlahny ayng terbatas terdapat di luar satuan-satuan bahasa yang jumlahnya yang tidak terbatas, meski secara relative sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa.
Keproduktifan bahasa Indonesia dapat juga dilihat pada jmumlah yang dapat dibuat. Dengan kosa kata yang menurut Kamus Besar Huruf Bahasa Indonesia hanya berjumlah lebih kurang 60.000 buah, kita dapat membuat kalimat bahasa Indonesia yang mungkin puluhan juta banyaknya, termasuk juga kalimat-kalimat yang belum pernah ada atau pernah dibuat orang.
Keproduktifan bahasa memang ada batasnya dalam hal ini dapat dibedakan adanya dua macam keterbatasan, yaitu keterbatasan pada tingkat parole dan keterbatasan pada tingkat langue. Keterbatasan pada tingkat parole adalah pada ketidak laziman atau kebelum laziman bentuk-bentuk yang dihasilkan. Sedangkan pada tingkat langue keproduktifan itu dibatasi karena kaidah atau sistem yang berlaku.

Bahasa selalu menghasilkan sesuatu. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan antara unsur dan daya pemakaiannya. Bunyi à kata à frasa à klausa à kalimat à paragraf à wacana

  1. Bahasa itu unik
Bahasa dikatakan memiliki sifat yang unik karena setiap bahasa memiliki ciri khas sendiri yang dimungkinkan tidak dimiliki oleh bahasa yang lain. Ciri khas ini menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat dan sistem-sistem lainnya. Di antara keunikan yang dimiliki bahasa bahwa tekanan kata bersifat morfemis, melainkan sintaksis. Bahasa bersfiat unik berfungsi untuk membedakan antara bahasa yang satu dengan lainnya.
Bahasa dikatakan memiliki sifat yang unik karena setiap bahasa memiliki ciri khas sendiri yang dimungkinkan tidak dimiliki oleh bahasa yang lain. Ciri khas ini menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata. Sistem pembentukan kalimat dan sistem-sistem lainnya. Di antara keunikan yang dimiliki bahasa adalah adanya tekanan kata yang tidak hanya bersifat morfemis, melainkan sintaksis. Bahasa bersifat unik berfungsi untuk membedakan antara bahasa yang satu dengan lainnya.
Unik artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang lain. Lalu, kalau bahasa dikatakan bersifat unik., maka artinya, setiap bahasa mempunyai cirri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Ciri khas ini bisa menyangkut sistem bunyi , sistem pembetukkan kata, sistem pembentukkan kalimat, atau sistem-sistem lainnya. Salah satu keunikkan bahasa Indonesia adalah bahwa tekanan kata tidak bersifat morfemis, melainkan sintaksis. Maksudnya, kalau pada kata tertentu di dalam kalimat kita berikan tekanan, maka makna itu tetap. Yang berubah adalah makna keseluruhan kalimat.

  1. Bahasa itu universal
Selain bersifat unik, yakni mempunyai sifat atau cirri masing-masing, bahasa itu bersifat universal. Artinya, ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di Dunia ini. Ciri-ciri yang universal ini merupakan unsur bahasa yang paling umum, yang biasa dikaitkan dengan ciri-ciri atau sifat-sifat bahasa lain.
Karena bahasa itu berupa ujaran, maka ciri universal dari bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vocal dan konsonan. Tetapi berapa banyak vocal dan konsonan yang dimiliki oleh setiap bahasa, bukanlah persoalan keuniversalan. Bukti dari keuniversalan bahasa adalah bahwa setiap bahasa mempunyai satuan-satuan bahasa yang bermakna, entah satuan yang maknany kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Namun, bagaimana satuan-satuan itu terbentuk mungkin tidak sama. Kalau pembentukan itu bersifat khas, hanya dimiliki sebuah bahasa maka hal itu merupakan keunikan dari bahasa. Kalau ciri itu dimiliki oleh sejumlah bahasa dalam satu hukum atau satu golongan bahasa, maka ciri tersebut menjadi ciri universal dan keunikan rumpun atau sub rumpun bahasa tersebut.
Ada juga yang mengatakan bahwa ciri umum yang dimiliki oleh bahasa-bahasa yang berada dalam satu rumpun atau sub rumpun, atau juga dimiliki oleh sebagian besar bahasa-bahasa yang ada di Dunia ini sebagai ciri setengah universal. Kalau dimiliki oleh semua bahasa yang ada di Dunia ini beru bisa disebut universal.

Setiap bahasa juga dimungkinkan memiliki ciri yang sama untuk beberapa kategori. Hal ini bisa dilihat pada fungsi dan beberapa sifat bahasa. Karena bahasa itu bersifta ujaran, ciri yang paling umum dimiliki oleh setiap bahasa itu adalah memiliki vokal dan konsonan. Namun, beberapa vokal dan konsonan pada setiap bahasa tidak selamanya menjadi persoalan keunikan. Bahasa Indonesia misalnya, memiliki 6 buah vokal dan 22 konsonan, tetapi bahasa Arab memiliki 3 buah vokal pendek, 3 buah vokal panjang, serta 28 konsonan (Al-Khuli, 1982:321). Oleh sifatnya yang universal ini, bahasa memiliki fungsi yang sangat umum dan menyeluruh dalam tindakan komunikasi.
Keuniversalan bahasa dapat dibuktikan dengan adanya sifat dan ciri-ciri sama yang dimiliki oleh bahasa-bahasa di dunia. Persamaan itu berupa kepemilikan bunyi vokal dan konsonan, kegramatikalan bahasa, dan kepemilikan fungsi pada kalimat. Oleh sifatnya yang universal ini, bahasa memiliki fungsi yang sangat umum dan menyeluruh dalam tindakan komunikasi.

  1. Bahasa itu dinamis
Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak perbah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat tak ada kegiatan manusia yang tidak disertai oleh bahasa. Malah dalam bermimpi pun manusia menggunakan bahasa.
Karena keterkaitan dan keterikatan bahasa itu dengan manusia, sedangkan dalam kehidupannya dalam manusia nya kegiatan manusia tidak tetap dan tidak berubah, maka bahasa itu juda menjadoi ikut berubah, menjadi tidak tetap, menjadi tidak statis. Karena itulah, bahas itu disebut dinamis.
Perubahahan yang paling jelas, dan paling banyak adalah pada bidang leksikon dan semantik. Barang kali, hamper setiap saat ada kata-kata baru muncul sebagai akibat perubahan dan ilmu, atau ada kata-kata lama yang muncul dengan makna baru. Hal ini juga dipahami, karen kata sebagai satuan bahasa terkecil, adalah sarana atau wadah untuk menampung suatu konsep yang ada dalam masyarakat bahasa. Dengan terjadinya perkembangan kebuidayaan, perkembang ilmu dan tekhnologi, tentu bermunculan konsep-konsep baru, yang tentunya disertai wadah penampungnya, yaitu kata-kata atau istilah-istilah baru.
Perubahan dalam bahasa ini dapat juga bukan terjadi berupa pengembangan dan perluasan, melainkan berupa kemunduran sejalan dengan perubahan yang dialami masyarakat bahasa yang bersangkutan. Berbagaio laasan sosial dan politik menyebabkan orang meninggalkan bahasanya, atau tidak lagi menggunakan bahasanya, lalu menggunakan bahasa lain. Di Indonesia, kabarnya telah banyak bahasa daerah yang telah ditinggalkan para penuturnya terutaam dengan alasan sosial. Jika ini terjadi terus menurus, maka pada suatu saat kelak banyak bahasa yang hanya ada beradadalam dokumentasi belaka, karena tidak ada lagi penuturnya.

Hampir di setiap tindakan manusia selalu menggunakan bahasa. Bahkan, dalam bermimpi pun, manusia menggunakan bahasa. Karena setiap tindakan manusia sering berubah-ubah seiring perubahan zaman yang diikuti oleh perubahan pola pikir manusia, bahasa yang digunakan pun kerap memiliki perubahan. Inilah yang dimaksud dengan dinamis. Dengan kata lain, bahasa tidak statis, tetapi akan terus berubah mengikuti kebutuhan dan tuntutan pemakai bahasa.
Hampir di setiap tindakan manusia selalu menggunakan bahasa. Akibat setiap tindakan manusia sering berubah-ubah seiring perubahan zaman yang diikuti oleh perubahan pola pikir manusia, bahasa yang digunakan pun sering memiliki perubahan. Inilah yang dimaksud dengan dinamis. Dengan kata lain, bahasa tidak statis, tetapi akan terus berubah mengikuti kebutuhan dan tuntutan pemakai bahasa.

  1. Bahasa itu bervariasi
Setiap masyarakat bahasa pasti memiliki variasi atau ragam dalam bertutur. Bahasa Aceh misalnya, antara penutur bahasa Aceh bagi masyarakat Aceh Barat dengan masyarakat Aceh di Aceh Utara memiliki variasi. Variasi bahasa dapat terjadi secara idiolek, dialek, kronolek, sosiolek, dan fungsiolek.
Setiap masyarakat bahasa pasti memiliki variasi atau ragam dalam bertutur. Variasi bahasa dapat terjadi secara idiolek, dialek, kronolek, sosiolek, dan fungsional.
Setiap bahasa digunakan oleh sekelompok orang yang termasuk dalam suatu masyarakat bahasa. Yang termasuk dalam masyarakat bahsa adalah mereka merasa menggunakan bahasa yang sama. Jadi, kalau disebut masyarakat bahasa Indonesia adalah semua orang yang merasa memiliki dan menggunakan bahasa Indonesia.
Anggota masyarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari ber bagai orang dengan berbagai status sosial dan berbagai latar belakang budaya yang tidak sama. Oleh karena itu, karena latar belakang dan lingkungannya yang tidak sama, maka bahasa yang mereka gunakan menjadi bervariasi atau beragam, dimana antara variasi atau ragam yang satu dengan yang lain sering kali mempunyai perbedaan yang besar.
Mengenai variasi bahasa ini ada tiga istilah yang perlu diketahui, yaitu idiolek, dialek, dan ragam. Idiolek adalah variasi atau ragam bahasa yang bersifat perseorangan. Setiap orang tentu mempunyai ciri khas bahasanya masing-masing. Kalau kita banyak membaca karangan orang yang banyak menulis, misalnya, Hamka, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamingway, atau Mark twain , maka kita akan dapat mengenali ciri khas atau idiolek pengarang-pengarang itu.
Dialek adalah variasi bahasa yang di gunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu. Variasi bahasa berdasarkan tempat ini lazim disebut dengan nama dialek regional , dialek area, atau dialek geografi. Sedangkan variasi bahasa yang digunakan sekelompok anggota masyarakat dengan status sosial tertentu disebut dialek sosial atau sosiolek.
Ragam atau ragam bahasa adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan, atau untuk keperluan tertentu. Untuk situasi formal digunakan ragam bahasa yang disebut ragam baku atau ragam standar, untuk situasi yang tidak formal digunakan ragam yang tidak baku atau ragam nonstandar. Dari sarana yang digunakan dapat dibedakan adanya ragam lisan dan ragam tulisan. Untuk keperluan pemakaiannya dapat dibedakan adanya ragam bahasa ilmiah, ragam bahasa jujrnalistik, ragam bahasa sastra, ragam bahasa militer, dan ragam bahasa hukum.


  1. Bahasa itu manusiawi
Bahasa yang manusiawi adalah bahasa yang lahir alami oleh manusia penutur bahasa dimaksud. Hal ini karena pada binatang belum tentu ada bahasa meskipun binatang dapat berkomunikasi. Sifat ini memiliki fungsi sebagai citra bahasa adalah sangat baik dalam komunikasi.
Bahasa yang manusiawi adalah bahasa yang lahir alami oleh manusia sebagai penutur bahasa dimaksud. Hal ini dikarenakan pada binatang belum tentu ada bahasa meskipun binatang dapat berkomunikasi.
Kalau kita menyimak kembali cirri-ciri bahasa, yang sudah dibicarakan dimuka, bahwa bahasa itu adalah sistem lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, bersifat arbitrer, bermakna, dan produktif, maka dapat dikatakan bahwa binatang tidak mempunyai bahasa. Bahwa binatang dapat berkomunikasi dengan sesama jenisnya, bahkan juga dengan manusia, adalah memang suatu kenyataan. Namun, alat komunikasinya tidaiklah sama dengan alat komunikasi manusia, yaitu bahasa.
Dari penelitian para pakar terhadap alat komunikasi binatang bisa disimpulkan bahwa satu-satuan komunikasi yang dimiliki binatang-binatang itu bersifat tetap.sebetulnya yang membuat alat komunikasi manusia itu, yaitu bahasa, produktif dan dinamis, dalam arti dapat dipakai untuk menyatakan sesuatu yang baru, berbeda dengan alat komunikasi binatang, yang hanya itu-itu saja dan statis , tidak dapat dipakai untuk menyatakan sesuatu yang baru, bukanlah terletak pada bahasa itu dan alat komunikasi binatang itu, melainkan pada perbedaan besar hakikat manusia dan hakikat binatang. Manusia sering disebut-sebut sebagai homosapiens makhluk yang berpikir, homososio makhluk yang bermasyarakat, homofabel makhluk pencipta alat-alat dan juga animalrasionale makhluk rasional yang beerakal budi. Maka dengan segala macam kelebihannya itu jelas manusia dapat memikirkan apa saja yang lalu, yang kini, dan yang masih akan datang, serta menyampaikannya kepada orang lain melalui alat komunikasinya, yaitu bahasa. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa alat komunikasi manusia yang namanya bahasa, adalah bersifat manusiawi, dalam arti hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia.


  1. Bahasa sebagai alat interakasi sosial
Bahasa sebagai alat interaksi sosial sangat jelas fungsinya, yakni dalam interaksi, manusia memang tidak dapat terlepas dari bahasa. Seperti dijelaskan di atas, hampir di setiap tindakan manusia tidak terlepas dari bahasa, maka salah satu hakekat bahasa adalah alat komunikasi dalam bergaul sehari-hari.

  1. Bahasa sebagai identitas diri
Bahasa juga dapat menjadi identitas diri pengguna bahasa tersebut. Hal ini disebabkan bahasa juga menjadi cerminan dari sikap seseorang dalam berinteraksi. Sebagai identitas diri, bahasa akan menjadi penunjuk karakter pemakai bahasa tersebut.
Sementara itu, Brown dan Yule (1996:1) berpendapat bahwa bahasa itu dapat berfungsi sebagai pengungkapan isi yang dideskripsikan menjadi fungsi transaksisional dan sebagai pengungkapan hubungan sosial dan sikap-sikap pribadi yang dideskripsikannya menjadi fungsi interaksional.




DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2006. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta:    Rineka Cipta.
Hambali. 2008. Linguistik Umum. Makassar: Universitas Muhammadiyah Makassar.
Simatupang, Maurits, dkk. 1979. Bahasa dan Sastra. Jakarta: Depdikbud.
Wardihan. P,  Andi. 2009.Pengantar Linguistik. Makassar: Universitas Negeri Makassar
Alieva, N.F. dkk. 1991. Bahasa Indonesia: Deskripsi dan Teori. Yogyakarta: Kanisius
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta



FAKTA TENTANG JALAN KETIGA


 Kumpulan Tulisan  Belajar Politik  Program Khusus  Database  Sumber Informasi 



FAKTA TENTANG JALAN KETIGA*

Oleh: Hendri Kuok

 

Abstrak
Karangan yang menilik praktik politik negara-negara penganut mazhab Jalan Ketiga Anthony Giddens ini menyingkap fakta yang senyatanya terjadi di negara-negara tersebut: Ingris dalam pemerintahan Tony Blair, Jerman di bawah Gerhard Schroeder, dan Brazil di tangan Fernando Henrique Cardoso, dengan Amerika di punggung Bill Clinton sebagai pelopor. Kegagalan ’jalan alternatif Giddens itu, terutama dalam rnengatasi problem yang dihadapi oleh rakyat pekerja, mendedah fakta bahwa third way bukanlah pilihan terbaik. Atau mungkin saja para pemimpin negara-negara itu adalah ”murid-murid” Anthony Giddens yang menyeleweng.

Robert Kennedy pernah mengutip Camus dengan mengatakan ”mungkin kita tidak dapat membuat penderitaan anak-anak di muka bumi ini lenyap, tetapi paling tidak kita bisa rnengurangi jumlah anak-anak yang menderita.”

Di penghujung abad ini, kita bisa melihat bahwa jawaban dari penderitaan anak-anak di muka bumi, khususnya di daratan Eropa dan Amerika Serikat disebabkan oleh sebuah trend politik baru yang dinamakan Jalan Ketiga, dengan dipelopori oleh Bill Clinton dan Tony Blair. Jalan ketiga dalam bahasa praktis bisa dikatakan bahwa gabungan antara old style sosial demokrasi dengan neo liberalisme.

Jalan ketiga merupakan suatu keharusan, jalan ketiga merepresentasi- kan pembaruan demokrasi sosial dalam sebuah dunia di mana pandangan- pandangan golongan kiri telah usang, sementara pandangan-pandangan kelompok kanan tidak memadai dan kontradiktif, demikianlah kurang lebih isi tulisan dalam majalah Basis edisi khusus awal tahun 2000.

Tulisan ini tidak bermaksud menganalisis Jalan Ketiga dari aspek filosofis yang mendalam, tapi lebih mengarah pada usaha untuk melihat praktik politik yang dijalankan oleh kelompok Third Way yang diwakili oteh Tony Blair cs.

New Labour Party : Aku masih seperti yang dulu

Publikasi United Nations Human Development Report telah menempat- kan Inggris di nomor 15 dari 17 negara industri dalam tingkat kemiskinan. Insfitute for Fiscal Studies juga melakukan riset yang menunjukkan bahwa antara pertengahan tahun 70-an dan tahun 90-an, jumlah penduduk yang memperoleh pendapatan di bawah 5G % dari rata-rata pendapatan norrnai, meningkat dari tiga juta penduduk menjadi sebelas juta penduduk. Sementara itu, untuk penduduk yang hidup di bawah tingkat kemiskinan tidak mengalami peningkatan hidup sejak tahun 60-an.’ Dalam waktu beberapa tahun terakhir, kita juga menyaksikan bagaimana ribuan lapangan kerja telah hilang di Inggris, sebagai contoh di Inggris pada tahun 1980 industri manufaktur mempekerjakan tujuh juta buruh, sedangkan di tahun 1998 hanya tersisa sekitar 3,9 juta buruh. Nilai ekspor menurut dari 6,4 % di tahun 1997 menjadi 3,9 % di tahun 1998. Sementara itu industri manufaktur di Inggris sendiri mengalami defisit sebesar 20 juta pound.

Secara umum, perekonomian Inggris bisa dikatakan berada dalam grafik menurun. lndustri di Inggris sudah tidak mempunyai daya saing lagi di pasar dunia. Hal ini disebabkan karena para kapitalis di Inggris sudah tidak tertarik untuk menginvestasikan modal mereka di bidang industri; sebagian besar dari mereka mengirimkan modal mereka ke luar negri. Sementara itu, untuk industri yang tersisa, mereka sudah tidak memberi perhatian yang besar lagi, misalnya untuk biaya training buruh mereka hanya mengeluarkan dana 0,3 % dari pendapatan mereka. Bandingkan angka ini dengan Jepang dan Jerman yang menghabiskan biaya enam kali lebih besar untuk training buruh. Jadi lnggris telah masuk ke dalam era low skill economy, bisa dikatakan bahwa hanya sekitar 35 % buruh di Inggris yang merupakan skil/ed workers dan jumlah anak muda antara 16-25 tahun yang berpendidikan memadai juga hanya mencapai angka 35 %. Di tambah lagi dengan kondisi di mana biaya produksi di Inggris 20 pesen lebih besar dibandingkan biaya produksi di negara Eropa lainnya.

Dalam kondisi seperti ini, Tony Blair tidak bisa berbuat dengan Third Way-nya, bahkan ketika bertemu dengan para buruh yang baru kehilangan pekerjaan di Fujitsu, yang merupakan konstituen Blair, dia hanya mengatakan bahwa ”kalian tidak dapat menyalahkan pasar bebas.” Menurut Blair sendiri Jalan Ketiga adalah sebuah nilai--”nilai tradisional dalam membentuk tatanan dunia baru.” Tatanan dunia bagaimanakah yang telah diubah oleh Blair selama beberapa tahun ia bekuasa?

Salah satu proyek Blair yang terlihat nyata adalah kreasi New Labour Party: Di sini, Blair berusaha mentransformasikan Partai Buruh Inggris menjadi partai. kapitalis seperti Partai Demokrat di Amerika Serikat. Hal ini mulai dilakukan Blair dengan mengubah personel dalam Partai Buruh Inggris sejak pemilu 1997. Dalam pemilu 1997, hanya 13 % dari anggota parlemen yang berlatar belakang kelas buruh, sedangkan 45 % berlatar belakang kaum professional, 9 % berlatar belakang- kaum businessman, dan 3 % dari non manual job. Blair telah berusaha merekrut anggota dari kalangan kelas menengah dan kelas atas, atau bahkan bekas anggota Partai Tory yang sakit hati, ke dalam Partai Buruh.

Usaha yang dilakukan Blair dalam mentranformasikan partai buruh, mungkin membuktikan bahwa sebenarnya Jalan Ketiga bukan merupakan kombinasi antara nilai- nilai sosial demokrasi dengan neo liberalisme; Jalan Ketiga dengan hfew Eabour Party Blair adalah jatan bagi neo liberalisme. Tranformasi partai buruh a la Blair sebenarnya merupakan usaha untuk mempertegas jalan bagi neo liberalisme. Hal ini sebenarnya juga pernah dilakukan oleh pendahulu Blair, yaitu Perdana Menteri Harold Wilson yang berkuasa dari tahun 1964 hingga tahun 1970. Jikalau Blair mencoba meniru Clinton, maka Wilson mencoba untuk meniru Kennedy, dan ketika itu pun Wilson sudah mengedapankan ide New Labour Party.

Untuk lebih memahami karakter Partai Buruh Inggirs maka kita perlu melihat ke belakang pada sejarah perkembangannya. Didirikan di tahun 1900, partai buruh diharapkan menjadi wadah politik bagi kaum buruh agar mempunyai wakil di parlemen, karena pada waktu itu partai politik yang ada yaitu partai Liberal dan 7ories hanya mewakili kepentingan para pengusaha dan pemilik modal. Akan tetapi dalam perjalanan sejarahnya, Partai Buruh Inggris secara perlahan lahan mulai mengkhianati para pendukungnya dan bekerja sama dengan kapitalis. Misalnya, pada tahun 1945, pemerintahan Partai Buruh menasionalisasikan beberapa pertambangan, perusahaan kereta api, dan perusahaan publik lainnya; nasionalisasi ini bukan untuk kepentingan kaum buruh tetapi lebih merupakan usaha untuk menyelamatkan para pengusaha di sektor tersebut yang hampir bangkrut.

Setelah Perang Dunia II berakhir, Partai Buruh juga mengambil sikap untuk menjalankan kebijakan Bretton Woods Agreement dan melakukan intervensi terhadap serikat-serikat buruh demi kepentingan pertumbuhan ekonomi. Di tahun 1974-1979, pemerintahan Partai Buruh semakin menjadi pengkhianat bagi kaum buruh dimana ketika itu Inggris sedang berada dalam krisis ekonomi, pemerintah justru melakukan pemotongan subsidi besar- besaran dan menjalankan kebijakan penghematan dari International Monetary Fund (IMF). Dibutuhkan waktu belasan tahun bagi partai buruh untuk bangkit kembali, dan selama periode mereka menjadi oposisi juga tidak ada perubahan sikap, misalnya ketika menghadapi pemogokan buruh pertambangan di tahun 1984-1985, Partai Buruh justru mengambil sikap untuk mendorong agar pemogokan dihentikan dan mendukung PHK yang dilakukan oleh Thatcher.’

JikaIau Blair ingin mengubah wajah Partai Buruh Inggris menjadi lebih baik, tentu solusinya bukan dengan menjadikan partai itu menjadi partai borjuis dengan diisi oleh kaum borjuis, atau memang proyek Blair bertujuan untuk mempertegas karakter Partai Buruh Inggris. Kebijakan praktis yang diambil oleh Tony Blair selama memerintah semakin menunjukkan bahwa sebenanrnya dia hanya menjalankan kebijakan neo liberal seperti pendahulunya. Hal ini bisa dilihat dari tiga keputusan besar yang dibuat oleh Blair, pertama, melepaskan kontrol pemerintahan atas Bank of Eng/and dan memberikan otoritas kepada mereka untuk menentukan kebijakan moneter sendiri. Kebijakan kedua adalah pemotongan angggaran sebesar sebelas pond per minggu untuk subsisi single mother. Ketiga adalah pemungutan sumbangan pendidikan bagi semua mahasiswa di seluruh universitas tanpa ada kecuali. Tidak berhenti disini saja, Blair melakukan privatisasi atas perusahaan kereta api, meskipun hanya 15 % dari penduduk yang mendukung ini tapi ia tetap bergeming maju dengan kebijakannya itu.

Resep Schroeder dan Cardoso

Pada September 1998, Partai Sosial Demokratik Jerman (SPD) memenangkan pemilu dengan muttak di pemilihan Bundestag. Ketika itu koalisi antara SPD dengan Green dibawah pimpinan Gerhard Schroeder diharapkan bisa memperbaiki nasib kaum buruh, kaum pengangguran dan para manula (manusia usiatanjut), akan tetapi kini praktik poIitik SPD semakin menjauhkan terwujudnya harapan tersebut.

Hasil pemilihan parlemen Eropa dan pemilihan lokal di tahun 1999 menunjukkan bahwa poputaritas SPD sudah menurun dimana mereka kalah dalam pemilihan lokal di Beriin, dengan mengantongi 22, 4 % suara adalah rekor terburuk bagi mereka sejak Perang Dunia II. Hasil pemilu 19S9 ini bukan merupakan pertanda rakyat beralih kepada Partai Kristen Demorkrat, tapi lebih merupakan ekspresi rasa frustasi dan kekecewaan kepada SPD yang mendominasi pemerintahan.

Schroeder sebagai seorang penganut Jalan Ketiga tentu juga menjalankan resep yang sama dengan Blair, dan kita bisa meiihatnya dalam praktik politik di Jerman. Oalam manifesto pemilu yang dikeluarkan oleh SPD, terlihat jelas bahwa SPD mendukung pemotongan anggaran dan subsidi yang sudah dijalankan oleh pemerintahan Helmut Kohl.

Dalam praktiknya pun, SPD menjalankan ini dengan konsisten, sebelum musim panas tahun 1999, kabinet koalisi mengeluarkan program pemotongan anggaran sebesar 30 juta DM per tahun bagi subsidi untuk pensiun dan pengangguran.

Sementara itu, pemerintahan Schroeder juga mendukung penyerbuan NATO terhadap Kosovo, suatu tindakan reaksioner yang sebenarnya jauh dari nilai-nilai yang digambarkan dalam Jalan Ketiga. Schroeder juga bekerja sama dengan kaum kapitalis dan rela mengkhiananti rekannya sendiri. Beberapa saat setelah memegang kekuasaan, Oskar Lafontaine, menteri keuangan dan ketua SPD, sudah membuka arena konflik baru di mana ia memperkenalkan sistem perpajakan yang baru. Lafontaine mengatakan bahwa perusahaan dan industri perbankan mempunyai cukup banyak uang untuk membayar pajak kepada pemerintah, oleh karena itu mereka akan dibebankan pajak yang lebih tinggi. Kebijakan Lafontaine ini mendapat tentangan keras dari perusahaan raksasa sampai akhirnyalafontaine mengundurkan diri dari semua posisi, baik di permerintahan maupun di partai. Kekalahan Lafontaine ini menunjukkan kemenangan dan kontrol kapitalisme atas partai-partai politik.

Dari Jerman kita mencoba melihat hasil yang dicapai oleh Presiden Ferdinand Henrique Cardoso di Brazil yang juga masuk ke dalam kelompok Jalan Ketiga. Perekonomian Brazil berada dalam urutan ke-9 terbesar di dunia; .130 juta penduduknya memproduksi 43 % dari GDP di Amerikalatin. IMF terus memantau perkembangan Brazil secara seksama, dua minggu sebelum pemilihan umum bulan Oktober 1998, IMF, Inter American Oevelopment Bank dan pemerintah Amerika Serikat sudah mempersiapkan diri untuk memberi jaminan hutang sebesar 50 trilliun dollar Amerika. Bantuan ini jelas merupakan bantuan bagi kampanye pemilihan presiden bagi Fernando Henrique Cardoso, presiden Brazil yang setia menerapkan kebijakan neo liberal. Bantuan ini ditujukan untuk mencegah ambruknya perekonomian sebelum pemilu. Akan tetapi, krisis sendiri kelihatannya membutuhkan jaminan hutang yang lebih besar. Sebuah perusahaan investasi di Amerika Serikat, Lehman Brothers, memperkirakan Brazil memerlukan paling tidak 200 trilliun dollar Amerika untuk mencegah devaluasi mata uang ”real”.

Sementara itu, utang luar negri Brazil terus meningkat dari 51,5 trilliun dollar Amerika menjadi 256,7 trilliun dollar Amerika selama masa pemerintahan Cardoso yang pertama dan 87 % dari cicilan hutang yang dihabiskan untuk membayar bunganya saja. Pemerintahan Cardoso berjanji untuk menjalankan praktik neo liberal untuk membebankan pembayaran hutang pada kaum buruh dan tani melalui austerity program. Pemerintah Cardoso di bawah bimbingan IMF mencoba mengurangi defisit anggaran sebesar 3 % dalam jangka waktu tahun dengan cara memotong beberapa mata anggaran dan meningkatkan pajak. Beberapa sektor yang dibabat habis adalah sistem dana pensiun dan pelayanan umum. Dana pensiun diubah dengan filosofi jikalau buruh ingin mendapat pensiun yang layak maka dia harus memberikan sumbangan yang lebih besar kepada perusahaan, kalau tidak maka dia hanya mendapat sedikit uang pensiun. Kebijakan untuk sektor publik akan mengizinkan pemerintah untuk memecat para pegawai dengan perhitungan pesangonnya hanya 60% dari keseluruhan biaya yang harus dikeluarkan untuk buruh tersebut. Selama masa pemerintahan Cardoso, angka keluarga petani tak bertanah dan buruh pengangguran meningkat drastis, tercatat paling tidak 500.000 lapangan kerja hilang di Brazil sejak tahun 1990. Selama sepuluh tahun terakhir 961 petani mati terbunuh dalam konflik pertanahan di Brazil.

Penutup

Melihat praktik politik yang ada dari para pemimpin Jalan Ketiga, baru sedikit hal yang merekalakukan untuk mengatasi problem yang dihadapi oleh rakyat pekerja secara keseluruhan. Jauh dari harapan mencari jalan keluar bagi problem tersebut, mereka justru menimbulkan masalah baru dengan kebijakan mereka. Mungkin akan muncul argumentasi bahwa ini hanya terjadi dalam tataran praktis, sementara dalam tataran ide Jalan Ketiga merupakan pemikiran yang belum tertandingi..Jikalau begitu adanya, mungkinkah Blair, Schroeder, Cardoso, atau Clinton adalah murid-murid Anthony Giddens yang menyeleweng?

* Dari Majalah Filsafat Driyarkara, Agustus 2000.

 

Last Updated:06/08/01 - Copyright © 2000 Uni Sosial Demokrat

FASHAL DAN WASHAL

Fashal dan washal
Kaidah.
- washal adalah mengatafkan suatu kalimat kepada kalimat lain dengan waawu, fashal adalah meninggalkan athaf  yang demikian. Masing2 washal dan fashal mempunyai tempat2 tersendiri.
- dintara dua kalimat, wajib difashalkan dalam tiga tempat;

a.       Bila diantar dua kalimat terdapat kesatuan yang sempurna, seperti halnya kalimat kedua, merupakan kalimat taukid bagi kalimat pertama atau sebagai penjelasnya, atau sebagai badalnya. Dalam keadaan demikian dikatakan bahwa diantara dua kalimat tersebut terdapat kesinambungan yang sempurna (kamaalul ittisal)
b.      Bila diantara keeduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh, seperti keduanya berbeda khabar dan insyanya, atau tidak ada keksesuaian sama sekali diantara keduanya, dalam keadaan demikian dikatakan bahwa diantara dua kalimat tersebut terdapat kamaalul ingqitha’ (keterputusan yang sempurna)
c.       Bila kalimat kedua merupakan jawaban dari petanyaan yang muncul dari pemahaman terhadaap klimat yang pertama. Dalam  keadaan demikian dikatakan bahwa diantara dua kalimat tersebut terdapat syibhu kamaalil ittishal (kemiripan kesinambungan yang sempurna)

Contoh fashal
وماالدهرإلامنرواةقصائدى % إذاقلت شعرا أصبح الدهرمنشد
Walau itu tiada lain hanyalah para periwayat qasidahku, apabila aku  membacakan sebuah syair, maka waktu akan mendengdangkannya. (taukid)
ا
الناس للناس من بدووحاضرة % بعض لبعض وإن لم يشعر خدم
Manusia bagi manusia lain baik dari kampung maupun sebagian bagi sebagian yang lain walaupun mereka tidak merasa adalah pelayan. (bayan)

يدبر الامر يفصّل الايت لعلكم بلقاء ربكم توقنون (الرعد : 2)
Allah mengatur urusan makhluknya menjelaskan tanda-tanda kebesarannya, supaya kamu meyakini pertemuanmu dengan tuhanmu.()QS Ar-ro’du;2) (badal)

إتّحادالتام كمال الاتصال – توكيد 
- بيان  
- بدل  


ياصاحب الدنياالمحب لها % انت الذى لاينقضى تعبه 
إنشاء                              خبر             


Wahai pemilik harta yang mencintainya, engkau adalah orang yang tidak akan habis kepayahannya.
(تباين تام % كمال لانقطاء)

Contoh washal

وحبّ العيش أعبد كل حرّ % وعلّم ساغبا أكل المرار
Cinta kehidupan itu memperbudak setiap orang merdeka dan mengajarkan orang yang
lapar untuk makan tumbuh-tumbuhan yang pahit.

يشمّر للّجّ عن ساقه % ويغمره الموج فى الساحل
خبرية               خبر                    
Ia menyingsingkan  pakaiannya dari kedua betisnya untuk mengarungi tengah laut,  dan ombak telah menerjangnya ketika masih ditepi laut.

وأدنى إلى القربى المقرب نفسه  %  ولا تشهدالشّورى امرأغيركاتم
إنشاء                     إنشاء                      
Dekatkanlah dirimu kepada orang dekat yang mendekatkan dirinya kepadamu, dan janganlah kamu mengajak musyawarah dengan orang yang tidak dapat memelihara rahasia.


Kaidah
-          Wajib washaal diantara dua kalimat dalam tiga tempat, yaitu bila:
a.       Kalimat kedua hendak disertakan kepada kalimat pertama dalam hukum I’rabnya
b.      Kedua kalimat tersebut sama-sama kalam khobar  atau sma-sama kalam insya dan bersesuaian maknanya dengan sempurna, namun tidak ada hal-hal yang mengharuskan keduanya difashalkan.

c.       Kedua kalimat tersebut berbeda khobar dan insyanya dan bila difashalkan akan menimbulkan kesalah pahaman yang menyalahi maksud semula.

METODOLOGI PENELITIAN MPI (MAKALAH)

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Pada awal tahun 1970-an berbicara mengenai penelitian agama dianggap tabu. Orang akan berkata : kenapa agama yang sudah begitu mapan mau diteliti ; agama adalah wahyu Allah. Sikap serupa terjadi di Barat. Dalam pendahuluan buku Seven Theories Of Religion dikatakan, dahulu orang Eropa menolak anggapan adanya kemungkinan meniliti agama. Sebab, antara ilmu dan nilai, antara ilmu dan agama ( kepercayaan ), tidak bisa disinkronkan.  
Era modern ini, semua aktivitas selalu mempunyai runjukan dan pedoman. Karena hal itu menunjang kesuksesan dan kekonkritan segala aspek. Oleh karena itu sebuah penelititanpun juga harus mempunyai rujukan yang jelas dan dapat dijadikan pegangan. Begitupun dengan sebuah disiplin ilmu majemen pendidikan islam, dianggap perlu dan penting untuk mengetahaui metodologi penelitian, objek penelitian dan lain-lain. Karena sejatinya berbicara mengenai majemen berarti berbicara perencanaan, mengorganisir, memimpin dan mengendalikan manusia dan sumber daya lain untuk mencapai tujuan organisasi yang secara efektif dan secara efisien. Berangkat dari itu, penulis berusaha sedikitnya memaparkan mengenai “Metodologi penelitian majajemen pendidikan islam”.
B.     Rumusan masalah
Dari latar belakang diatas, dapat kita rumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Apa yang dimaksud dengan metodologi penelitian ?
2.      Apa objek penelitian manajemen pendidikan islam ?
3.      Komponen-komponen metodologi penelitian ?
4.      Bagaimana proses penelitian manajemen pendidikan islam ?


BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian metodologi penelitian
Menurut bahasa (etimologi), metode berasal dari bahasa Yunani, yaitu meta (sepanjang), hodos (jalan). Jadi, metode adalah suatu ilmu tentang cara atau langkah-langkah yang di tempuh dalam suatu disiplin tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Metode berarti ilmu cara menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Metode juga disebut pengajaran atau penelitian.
Menurut istilah“metodologi” berasal dari bahasa yunani yakni metodhos dan logos, methodos berarti cara, kiat dan seluk beluk yang berkaitan dengan upaya menyelsaikan sesuatu, sementara logos berarti ilmu pengetahuan, cakrawala dan wawasan. Dengan demikian metodologi adalah metode atau cara-cara yang berlaku dalam kajian atau penelitian.
Metodologi adalah masalah yang sangat penting dalam sejarah pertumbuhan ilmu, metode kognitif yang betul untuk mencari kebenaran adalah lebih penting dari filsafat, sains, atau hanya mempunyai bakat.
Cara dan prosedur untuk memperoleh pengetahuan dapat ditentukan berdasarkan disiplin ilmu yang dikajinya, oleh karena itu dalam menentukan disiplin ilmu kita harus menentukan metode yang relevan dengan disiplin  itu, masalah yang dihadapi dalam proses verivikasi ini adalah bagaimana prosedur kajian dan cara dalam pengumpulsn dan analisis data agar kesimpulan yang ditarik memenuhi persyaratan berfikir induktif. Penetapan prosedur kajian dan cara ini disebut metodologi kajian atau metodologi penelitian
Metodologi penelitian adalah sekumpulan peraturan, kegiatan, dan prosedur yang digunakan oleh pelaku suatu disiplin ilmu. Metodologi juga merupakan analisis teoritis mengenai suatu cara atau metode. Penelitian merupak an suatu penyelidikan yang sistematis untuk meningkatkan sejumlah pengetahuan, juga merupakan suatu usaha yang sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki masalah tertentu yang memerlukan jawaban. 
Hakekat penelitian dapat dipahami dengan mempelajari berbagai aspek yang mendorong penelitian untuk melakukan penelitian. Setiap orang mempunyai motivasi yang berbeda, di antaranya dipengaruhi oleh tujuan dan profesi masing-masing. Motivasi dan tujuan penelitian secara umum pada dasarnya adalah sama, yaitu bahwa penelitian merupakan refleksi dari keinginan manusia yang selalu berusaha untuk mengetahui sesuatu. Keinginan untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan merupakan kebutuhan dasar manusia  yang umumnya menjadi motivasi untuk melakukan penelitian.
Adapun tujuan Penelitian adalah penemuan, pembuktian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
  1. Penemuan. Data yang diperoleh dari penelitian merupakan data-data yang baru yang belum pernah diketahui.
  2. Pembuktian. Data yang diperoleh dari penelitian digunakan untuk membuktikan adanya keraguan terhadap informasi atau pengetahuan tertentu.
  3. Pengembangan. Data yang diperoleh dari penelitian digunakan untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan yang telah ada.
Kegunaan penelitian dapat dipergunakan untuk memahami masalah, memecahkan masalah, dan mengantisipasi masalah.
  1. Memahami masalah. Data yang diperoleh dari penelitian digunakan untuk memperjelas suatu masalah atau informasi yang tidak diketahui dan selanjutnya diketahui.
  2. Memecahkan masalah. Data yang diperoleh dari penelitian digunakan untuk meminimalkan atau menghilangkan masalah.
  3. Mengantisipasi masalah. Data yang diperoleh dari penelitian digunakan untuk mengupayakan agar masalah tersebut tidak terjadi.


Diagram alir proses penelitian

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPSDHYOV7n4rLlyBtb3tGobjwjmRKkdVBjTSyLl_FgJaXk28JbCKsx98yqyQPodU6aWLdapacfeitxgke1AghBAEMSkGmB-3gvXpgcrw-xFGwSUWK7z1-8tmEm1DCQBZHl-fJEngsMR7TT/s320/PROSEDUR.jpg

B.   Komponen-komponen metodologi penelitian
1.      Cara ilmiah
Kegiatan penelitian didasarkan cirri-ciri keilmuan :
a.       Rasional, dilakukan dengan cara yang masuk akal sehingga terjangkau penalaran manusia.
b.      Empiris, dapat diamati indera manusia sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara yang digunakan.
c.       Sistematis, proses yang digunakan menggunakan langkah yang logis.
2.      Data
Dalam data penelitian kita harus memperhatikan :
a.       Validitas data yang menunjukan derajat ketepatan antara data yang sesungguhnya terjadi pada obyek dengan data yang dapat dikumpulkan oleh peneliti.
b.      Reliabelitas data yang menunjukan derajat konsistensi data dalam interval waktu tertentu.
c.       Obyektifitas data yang menunjukan derajat persamaan persepsi berkenaan dengan kesepakatan antar banyak orang (interpersonal agreement).
Berdasar Pendekatan Filosofis dan disiplin Ilmu (terkait dengan data) data penelitian terbagi kedalam dua penelitian, Penelitian kualitatif yang dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, tindakan, dll, secara holistik dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan naratif pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Sedangkan penelitian Kuantitatif Penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan, meramalkan, mengontrol fenomena melalui pengumpulan data terfokus dari data numerik.
3.      Tujuan
a.       Penemuan, yang sebelumnya belum pernah diketahui.
b.      Pembuktian, yang membuktikan keraguan terhadap informasi/ pengetahuan tertentu.
c.       Pengembangan, yang memperdalam dan memperluas pengetahuan yang sudah ada.

4.      Kegunaan
a.       MEMAHAMI MASALAH
            Peneliti memperjelas suatu masalah/informasi yang tidak diketahui dan selanjutnya menjadi tahu
b.      MEMECAHKAN MASALAH
            Peneliti meminimalkan/menghilangkan masalah
c.       MENGANTISIPASI MASALAH
            Peneliti mengupayakan agar masalah tidak terjadi
           





C.      Objek penelitian manajemen pendidikan islam
Objek Penelitian Manajemen Pendidikan Islam
Secara teoretik manajemen pendidikan Islam juga mengikuti kaidah-kaidah manajemen pada umumnya dengan objek kajiannya adalah lembaga-lembaga pendidikan Islam.
Namun demikian, secara ontologik masih terdapat beberapa varian persepsi mengenai bidang studi yang relatif baru ini. Ditilik dari namanya, bidang kajian ini merupakan bidang kajian lintas disiplin (inter-desciplinary course), jika pemisahan istilahnya adalah: manajemen + pendidikan Islam. Namun jika pemisahannya  adalah: manajemen + pendidikan  + Islam, maka bidang kajian ini merupakan bidang multi disiplin (multi-desciplinary course). Bisa juga pemisahannya adalah: manajemen pendidikan + Islam. Tampaknya yang lebih menjadi concern program studi adalah pemisahan model pertama (manajemen + pendidikan Islam). 
Implikasi dari model kajian semacam itu adalah pengkaji dituntut untuk menguasai lebih dari satu macam disiplin ilmu. Di satu sisi, pengkaji dituntut untuk menguasai ilmu manajemen secara umum, dan di sisi yang lain dia juga dituntut untuk menguasai konsep-konsep pendidikan Islam dengan menggunakan al Qur’an dan hadis sebagai cara pandang. Ini tentu bukan pekerjaan mudah.

  https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKEdj5V1vHsuDIfN_wCUVmy9qjxfkSDsoFkFUuQebLu9wOYKxYsyvq37pGf4eREY_KoWmWBIxl6KmWVf23BFa5EMZfkgWzpkBbybDXz51QVMlDFPrshlIx0HPRvO-gRzeME5qdwP0ftx42/s400/Penelitian+MPI.png

Sebagai program studi dengan bidang kajian khusus, secara ontologik manajemen pendidikan Islam menetapkan kawasannya berdasarkan fakta empirik dan konsep teoretik manajemen pendidikan Islam. Manajemen adalah sebuah konstruk teoretik. Pendidikan adalah konsep substantif, tetapi masih di tingkat generik, sedangkan Islam adalah konsep substantif di tingkat partikularistik.
Dengan demikian, secara definitif manajemen pendidikan Islam adalah proses mengelola lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti madrasah, pondok pesantren, dan lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam dengan menggunakan Islam (al Qur’an dan hadis) sebagai cara pandang/perspektif. Diyakini lembaga-lembaga pendidikan tersebut memiliki ciri khusus yang membedakaanya dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya sehingga diperlukan model pengelolaan secara khusus pula.
Secara lebih rinci, objek kajian manajemen pendidikan Islam meliputi:
1.      perangkat kegiatan apa saja yang membentuk konstruk manajemen, mulai dari planning, organizing, actuating hingga controlling,
2.      komponen-komponen sistemik yang niscaya ada dalam fenomena pendidikan, mulai dari input, output, outcome, proses belajar, sarana dan prasarana belajar, lingkungan, guru, kurikulum, personalia pendukung, bahan ajar, masyarakat, evaluasi dan
3.      fakta empirik yang diberi label (pendidikan) Islam, dengan kekhususannya, seperti nilai-nilai yang berkembang di lingkungan lembaga pendidikan Islam (ikhlas, barokah, tawadu’, istiqomah, ijtihad, dan sebagainya).
Memahami pendidikan sebagai upaya teleologik di mana manajemen merupakan bagian komponen yang tak terpisahkan dari praktik pendidikan, ilustrasi berikut dapat dipakai mencari ruang/wilayah kajian penelitian.
D.      Proses penelitian manajemen pendidikan islam
Sebagai aktivitas ilmiah, penelitian memiliki langkah-langkah yang sistemik  dan sistematik yang berlaku untuk semua disiplin ilmu. Sistemik artinya ada saling keterkaitan antar-unsur dan sistematik artinya ada urutan logik antar-langkah. Setidaknya terdapat 8 (delapan) tahap penelitian sebagai berikut:  (1) selecting a topic), (2) determining a research paradigm, (3) formulating a research question, (4) determining a research design, (5) collecting data, (6) analyzing data, (7) interpreting data, (8) informing others. 
1Selecting  a topic
Memilih topik penelitian merupakan langkah paling awal yang harus dilakukan seorang peneliti. Topik penelitian merupakan ide atau gambaran sangat umum yang akan menjadi tema kajian, bisa tentang masalah pendidikan, budaya, politik, sejarah, ekonomi, agama dan sebagainya.
Tidak ada formula yang baku tentang metode bagaimana mencari topik penelitian. Tetapi ada beberapa cara yang bisa dipakai sebagai pedoman. Menurut  sebagai berikut:
1.                  personal experience, yaitu pengalaman pribadi yang pernah dialami seseorang. Ini bisa menjadi inspirasi seseorang untuk melakukan penelitian.
2.                  curiosity, yaitu rasa ingin tahu yang kuat. Misalnya, sesaeorang ingin mengetahui pola hubungan antara majikan dan staf di dalam sebuah perusahaan atau kantor sehingga melahirkan kinerja yang sinergis.
3.                  the state of knowledge in a field, yaitu tema atau isu–isu baru di masyarakat yang mengundang perhatian publik. Misalnya, beberapa waktu lalu terjadi bentrok antar-pemeluk agama karena munculnya aliran baru dalam agama, seperti Ahmadiyah.
4.                  solving a problem, yaitu keinginan menyelesaikan masalah yang terjadi di masyarakat dengan segera. Misalnya, di masyarakat ada gejala orang mudah marah atau bersifat emosional terhadap kebijakan publik.
5.                  social premiums (some topics are “hot” and invite challenges or opportunities. Ada tema atau topik tertentu yang menantang untuk diteliti dengan imbalan finansial yang cukup memadai.
6.                  f. personal values, yakni nilai atau manfaat khusus secara pribadi atas hasil penelitian.
7.                  everyday life, yakni peristiwa sehari-hari bisa menjadi lahan atau tema penelitain, baik yang berskala mikro maupun makro.
Namun demikian dari sekian banyak tahapan tersebut, tema penelitian untuk skripsi, tesis dan desertasi setidaknya memenuhi 3 (tiga) syarat Relevansi, yakni:
a. (R)elevansi Akademik, bahwa penelitian harus memberikan sumbangan keilmuan sesuai bidang studi yang kita tekuni).
b. (R)elevansi Sosial, bahwa penelitian harus menarik dan relevan dengan isu-isu yang terjadi d masyarakat.
c. (R)elevansi Institusional, bahwa penelitian mengangkat tema yang akrab dengan lembaga di mana kita bekerja atau belajar. 
2Determining a Research Paradigm
Selaras dengan tinjauan aksiologik, dalam khasanah metodologi penelitian atau kajian dikenal, paling tidak, tiga paradigma kajian utama, yaitu: (1) paradigma positivistik (positivistic paradigm), (2) paradigma interpretif (interpretive paradigm), dan (3) paradigma refleksif (reflexive paradigm). Lazimnya, paradigma positivistik disepadankan dengan pendekatan kuantitatif (quantitative approach), paradigma interpretif disepadankan dengan pendekatan kualitatif (qualitative approach), sedangkan paradigma refleksif disepadankan dengan pendekatan kritik (critical approach).
3. Formulating  research question
Beberapa langkah untuk merumuskan pertanyaan penelitian:
1.                  examining literature, yakni penelusuran literatur, selain dipakai untuk menyempitkan masalah sehingga researchable, juga untuk membantu menyadari bahwa penelitian ini akan memberi sumbangan pada topik yang lebih besar dan bahwa penelitian tersebut merupakan bagian dari penelitian sebelumnya, bukan fakta asing yang terpisah.
2.                  talking over ideas with colleagues or experts, yakni mendiskusikan rencana atau topik penelitian dengan kolega, teman sejawat atau ahli untuk memperoleh masukan.
3.                  applying to a specific context, mencoba memahaminya dengan lebih dalam pada konteks secara spesifik.
4.                  defining the aims or desired outcome  of  the study, yakni menentukan tujuan yang hendak dicapai, apakah untuk menjelaskan realitas atau memahami fenomena.
4. Determining a research design.
Pada tahap ini peneliti membuat rancangan tentang prosedur dan metode yang akan dipakai untuk memperoleh data, bagaimana memperolehnya, siapa yang akan dihubungi, kapan pelaksanaannya dan di mana,  apa bentuk datanya, dan bagaimana cara analisisnya. 
5. Collecting data
Secara umum kegiatan pengumpulan data terdiri atas observasi, wawancara, dan kuesioner. (masing-masing jenis perlu dibahas pada sesi tersendiri). 
6. Analyzing data
Terdapat tiga model atau cara untuk menganalisis data kualitatif. Miles dan Huberman (1987) menganjurkan model analisis interaktif (interactive model) yang mengandung empat komponen yang saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanaan data, (3) pemaparan data, dan (4) penarikan dan pengajuan simpulan.
Spradley (1979) menganjurkan empat teknik analisis data kualitatif, yaitu (1) analisis ranah (domain analysis), (2) analisis taksonomik (taxonomic analysis), (3) analisis komponensial (componential analysis), dan (4) analisis tematik (thematic analysis).
Analisis ranah dimaksudkan untuk memperoleh pengertian umum dan relatif menyeluruh mengenai pokok permasalahan. Hasil analisis ini berupa pengetahuan tingkat “permulaan” tentang berbagai ranah atau kategori konseptual secara umum pula.
Pada analisis taksonomik, pusat perhatian ditentukan terbatas pada ranah yang sangat berguna dalam memaparkan gejala-gejala yang menjadi sasaran penelitian. Analisis taksonomik tidak saja berdasarkan data lapangan, tetapi juga berdasarkan hasil kajian pusataka. Beberapa ranah yang sangat penting dipilih dan dijadikan pusat perhatian untuk diselidiki secara mendalam.
Analisis komponensial dilakukan untuk mengorganisasikan perbedaan (kontras) antar-unsur dalam ranah yang diperoleh melalui pengamatan dan atau wawancara terseleksi.
Pada analisis tematik, peneliti menggunakan saran Bogdan dan Taylor (1975: 82-93) dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
1.                  Membaca secara cermat keseluruhan catatan lapangan
2.                  Memberikan kode pada topik-topik pembicaraan penting
3.                  Menyusun tipologi
4.                  Membaca kepustakaan yang terkait dengan masalah dan konteks penelitian.
Berdasarkan seluruh analisis, peneliti melakukan rekonstruksi dalam bentuk deskripsi, narasi dan argumentasi. Beberapa sub-topik disusun secara deduktif, dengan  mendahulukan kaidah-kaidah pokok yang diikuti dengan kasus dan contoh-contoh. Sub-topik selebihnya disajikan secara induktif, dengan memaparkan kasus dan contoh untuk ditarik kesimpulan umumnya.
Cara atau model  ketiga disarankan oleh Strauss dan Corbin (1990) dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) open coding, (2) axial coding, (3) selective coding, dan (4) the generation of a conditional matrix. 
7. Interpreting data
Pada tahap ini peneliti melakukan  simpulan kajian, yang meliputi kegiatan penafsiran dan penyatupaduan (interpreting and integrating) temuan ke dalam bangunan pengetahuan sebelumnya. 

8. Informing others.
Pada tahap ini peneliti menulis hasil penelitian dalam bentuk laporan penelitian, bisa dalam bentuk skripsi, tesis, desertasi atau laporan penelitian. Temuan penelitian disebarluaskan ke khalayak akademik untuk memperoleh masukan dan memberikan sumbangan bagi kemaslahatan umum. Dari temuan penelitian, kegiatan penelitian lebih lanjut dapat dilakukan.


BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
Sebagai sebuah disiplin ilmu pengetahun, manajemen pendidikan Islam memiliki ciri dan kekhasan sendiri yang berbeda dengan bidang pengetahuan yang lain, baik dari aspek ontologik, epsitemologik maupun aksiologik. Pemahaman ontologik yang mencakup objek dan wilayah kajian, pemahaman epistemologik yang mencakup cara mengkajinya dan pemahaman aksiologik yang mencakup tujuan dan manfaat kajian penting dikuasai oleh setiap peneliti. Kekeliruan penetapan objek dan wilayah kajian akan berakibat sangat fatal,
Sebagai bidang ilmu lintas disiplin, manajemen pendidikan Islam memungkinkan untuk dikaji bersama para pakar di bidang lain, seperti pakar pendidikan, pakar manajemen (umum), dan pakar studi keislaman.
Dengan besarnya jumlah lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang sampai saat ini mencapai angka 85. 911 dengan jumlah siswa 11.531.028, maka  bidang studi ini sangat prospektif. Peminat studi ini pun juga semakin banyak. Seiring dengan upaya pengembangan dan peningkatan kualitas lembaga pendidikan Islam, Indonesia sangat memerlukan ahli di bidang ini untuk membuat blue printpengelolaan lembaga-lembaga pendidikan Islam secara nasional. Siapa tahu ahli dimaksud muncul dari kelas ini! Aminnn….



Daftar Pustaka

Alvesson, Mats dan Kaj Skoldberg. 2000. Reflexive Methodology: New Vistas for Qualitative Research.
Faisal, Sanapiah. 1998. “Filosofi dan Akar Tradisi Penelitian Kualitatif”, Makalah, Disampaikan pada Pelatihan Metode Penelitian Kualitatif oleh Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (BMPTSI) Wilayah VII-Jawa Timur di Surabaya, 24-27 Agustus 1998.
Sulistyo-Basuki. 2006. Metode Penelitian. Jakarta: Wedatama Wida Sastra Bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Wuisman J.J.J. M. 1996. Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Jilid 1, Asas-Asas. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. www.google.edu.com